Penelitian ini mengkaji konsep rezeki (rezeki ilahi) sebagaimana diartikulasikan dalam teks pedagogis Islam klasik Ta'lim al-Muta'allim oleh Burhan al-Din al-Zarnuji, dan relevansi teoretisnya dengan Teori Penentuan Nasib Sendiri (SDT) sebagai kerangka pemahaman motivasi belajar di era digital. Terlepas dari ekspansi pesat platform pembelajaran digital di Indonesia, paradoks tetap ada: penurunan motivasi di kalangan siswa Muslim terus dilaporkan bahkan ketika akses ke teknologi pendidikan meningkat, menunjukkan bahwa kerangka psikologis sekuler saja mungkin tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan motivasi siswa yang tertanam dalam agama. Penelitian ini menganalisis bagaimana wacana al-Zarnuji tentang rezeki – yang meliputi keikhlasan niat (niyat), ketekunan dan tinjauan (mujahadah dan murajaah), penghormatan terhadap ilmu dan guru (ta'dzim al-'ilm wa al-'ulama'), dan berkah ilahi (barakah)—sesuai dengan dan memperluas tiga kebutuhan psikologis dasar SDT, yaitu otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Dengan menggunakan desain penelitian perpustakaan kualitatif dengan pendekatan analitis-komparatif, penelitian ini mengkaji sumber primer (teks asli Ta'lim al-Muta'allim dan komentarnya, selain literatur SDT dasar) dan sumber sekunder dari jurnal nasional dan internasional terakreditasi (2019–2026) melalui analisis konten dan hermeneutika komparatif. Temuan ini menunjukkan bahwa konsepsi al-Zarnuji tentang rezeki berfungsi secara struktural sejajar dengan tiga kebutuhan dasar SDT sambil memperkenalkan dimensi transenden keempat yang tidak ada dalam teori asli: hubungan yang dirasakan orang percaya dengan Tuhan sebagai sumber utama penyediaan dan pengetahuan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan Transcendent Self-Determination Theory (T-SDT) sebagai perpanjangan teoritis SDT bagi pelajar Muslim, di mana transendensi spiritual beroperasi sebagai kebutuhan psikologis dasar keempat selain otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.