Gusti Ayu Jessy Kartini
Program Studi Teknik Geodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

OPTIMASI FORMAT DAN EFISIENSI DATA 3D UNTUK VISUALISASI SUBSURFACE BERBASIS WEB MENGGUNAKAN 3D TILES Yusuf Almunawar; Gusti Ayu Jessy Kartini; Ketut Tomy Suhari
Simtek : jurnal sistem informasi dan teknik komputer Vol. 11 No. 2 (2026): Oktober 2026
Publisher : STMIK Catur Sakti Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51876/simtek.v11i2.1818

Abstract

WebGIS-based three-dimensional (3D) data visualization often faces challenges associated with large data volumes, which can affect storage efficiency and visualization performance. This study aims to optimize 3D data formats for subsurface visualization using 3D Tiles, with Barong Cave as the case study. The 3D model was reconstructed using Agisoft Metashape and subsequently processed through four workflows comparing LAS and LAZ formats and geometry optimization through subsampling. All models were converted into 3D Tiles and visualized using CesiumJS. The results demonstrate that the optimization process reduced the number of points in the point cloud by 80.72%, while the use of the LAZ format reduced file size by approximately 67% compared with LAS. Workflow 3 achieved the fastest loading time at 180 ms, while memory usage remained stable within the range of 55.83–57.17 MB. All workflows achieved frame rates above 90 FPS, enabling real-time visualization. These findings demonstrate that the combination of LAZ and 3D Tiles can improve data and visualization efficiency while maintaining the representational quality of the 3D model.
Evaluasi Akurasi Pemetaan Dalam Ruangan Berbasis LiDAR-SLAM Menggunakan Metode Single mapping dan Multi mapping pada Gedung 18 ITENAS Indra Jayusman; Gusti Ayu Jessy Kartini
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 6 No 9 (2026): JPTI - September 2026
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.2414

Abstract

Teknologi Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) berbasis LiDAR telah menjadi salah satu metode yang banyak digunakan untuk pemetaan tiga dimensi (3D) lingkungan indoor karena mampu menghasilkan model point cloud secara cepat tanpa bergantung pada sinyal Global Navigation Satellite System (GNSS). Namun, strategi akuisisi data yang digunakan berpotensi memengaruhi kualitas geometrik model yang dihasilkan, terutama pada bangunan bertingkat dengan lintasan pemetaan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi model point cloud hasil metode single mapping dan multi mapping menggunakan SLAM LiDAR pada Gedung 18 Institut Teknologi Nasional Bandung. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen komparatif. Data diperoleh melalui akuisisi point cloud menggunakan Hi-Target V700S SLAM LiDAR, pengukuran 10 titik check point menggunakan Total Station sebagai referensi koordinat, serta pengukuran dimensi 12 objek bangunan menggunakan meteran dan distometer untuk validasi geometri. Akurasi koordinat dievaluasi menggunakan parameter Root Mean Square Error (RMSE), Circular Error 90 (CE90), dan Linear Error 90 (LE90), sedangkan kesesuaian geometri dianalisis menggunakan paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode single mapping menghasilkan akurasi koordinat yang lebih baik dibandingkan multi mapping, yang diindikasikan oleh nilai RMSE horizontal sebesar 0,0916 m dan CE90 sebesar 0,1390 m. Perbedaan tersebut mengindikasikan bahwa proses registrasi pada metode multi mapping berpotensi meningkatkan propagasi kesalahan koordinat. Meskipun demikian, hasil uji statistik menunjukkan bahwa kedua metode mampu merepresentasikan geometri bangunan secara konsisten tanpa perbedaan yang signifikan terhadap hasil pengukuran lapangan (p > 0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa single mapping lebih sesuai untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian koordinat tinggi, sedangkan multi mapping tetap dapat diterapkan pada bangunan dengan keterbatasan akses selama proses registrasi dilakukan secara optimal.