Mehdya Vikia Murti
Akademi Akupunktur Aceh, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SUSTAINABLE ACUPUNCTURE-MOXIBUSTION MODEL UPAYA PEMULIHAN NYERI BAHU PADA PENYINTAS BANJIR DAN TANAH LONGSOR: PENDEKATAN KESEHATAN KOMPLEMENTER BERBASIS MASYARAKAT Mehdya Vikia Murti; Atika Afniratri; Renny Hidayati Zein
Jurnal Ilmu Kesehatan & Kebidanan Nusantara Vol. 3 No. 3 (2026): Juli-September, Innovative Approach to Maternal and Child Health
Publisher : Akademi Kebidanan Nusantara 2000

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/y1nk5e25

Abstract

Nyeri bahu adalah penyakit yang melemahkan dan membuat tidak nyaman yang dapat diidentifikasi secara klinis. Nyeri bahu adalah gangguan yang ditandai dengan peradangan kronis dan fibrosis proliferatif, yang menyebabkan rasa sakit dan membatasi gerakan pada sendiĀ  bahu. Dalam musibah bencana yang terjadi di Pidie Jaya ini telah mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang cukup parah. Pada musibah bencana ini banyak pendekatan mobile clinic sangat efektif untuk menjangkau masyarakat yang terkena hambatan mobilitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas terapi akupunktur dan moksibusi untuk masyarakat terdampak bencana. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimentasl one group pretest-posttest design. One-group pretest-posttest design adalah sebuah design penelitian yang memberikan pretest terlebih dahulu sebelum dilakukan treatment atau perlakuan, kemudian setelah dilakukan treatment atau perlakuan akan diberikan posttest. Hasil dari penelitian ini adalah Terapi akupunktur dan moksibusi berhasil menurunkan nyeri secara signifikan berdasarkan skor VAS (Visual Analog Scale). Skor nyeri rata-rata menurun setelah dilakukan intervensi, dengan perbedaan rerata sebesar 3,80 poin. Data berdistribusi normal sehingga uji t berpasangan digunakan dan hasil menunjukkan nilai signifikan p = 0.001, menandakan perbedaan bermakna. Penurunan nyeri terjadi pada seluruh kelompok jenis kelamin, kelompok usia.