Pneumonia aspirasi pada neonatus dapat menyebabkan cedera paru dan komplikasi respirasi berat, termasuk pneumothorax yang mengancam jiwa. Berdasarkan penelusuran literatur, kombinasi pneumonia aspirasi, tension pneumothorax, dan penyakit jantung bawaan asianotik berupa atrial septal defect (ASD) secundum serta patent ductus arteriosus (PDA) pada neonatus cukup bulan masih jarang dilaporkan sebagai satu kesatuan kasus, sehingga menjadi nilai kebaruan laporan ini. Laporan ini bertujuan menggambarkan perjalanan klinis, kemungkinan hubungan pneumonia aspirasi dengan tension pneumothorax, faktor risiko kebocoran udara, serta tantangan tata laksana pada neonatus dengan penyakit jantung bawaan. Seorang neonatus laki-laki cukup bulan berusia 28 hari dengan berat badan 2,6 kg datang dengan sesak napas berat setelah batuk dan tersedak saat pemberian susu. Pasien mengalami hipoksemia berat, gagal napas akut dengan hiperkapnia, kejang, dan henti jantung. Radiografi toraks menunjukkan kolaps paru kanan dengan pergeseran mediastinum ke kiri serta infiltrat paru, mendukung diagnosis pneumonia aspirasi dengan tension pneumothorax dextra. Ekokardiografi menunjukkan ASD secundum dan PDA dengan left-to-right shunt, dinilai sebagai komorbiditas penyerta dan bukan penyebab langsung pneumothorax. Penatalaksanaan meliputi dukungan ventilasi, terapi antibiotik, terapi antikejang, dukungan hemodinamik, dan pemasangan chest tube. Setelah drainase pleura, terjadi perbaikan oksigenasi dan resolusi pneumothorax secara radiologis. Namun, gangguan respirasi dan infiltrat paru menetap sehingga pasien dirujuk ke rumah sakit tipe A untuk penanganan lebih lanjut. Pesan klinis utama: pneumonia aspirasi pada neonatus dapat berkomplikasi menjadi tension pneumothorax, menyebabkan perburukan respirasi dan instabilitas hemodinamik. Pengenalan dini dan dekompresi segera penting, disertai dukungan ventilasi tepat, pengendalian infeksi, pemantauan intensif, dan rujukan ke pusat pelayanan tersier bila diperlukan.