Sigit Haryadi
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Dodokan Moyosari, Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan, Kementerian Kehutanan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Silvofishery sebagai Strategi Penguatan Kelembagaan Mangrove pada Program Folu Net Sink 2030 di Nusa Tenggara Barat Alis Mukhlis; Sigit Haryadi; Dedy Maskumambang; Misdarti Misdarti; Zulianti Zulianti
Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 6 No. 5 (2026): September 2026 - Jurnal Altifani Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/altifani.v6i5.1390

Abstract

Ekosistem mangrove berperan strategis secara ekologi, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat pesisir serta mendukung target FOLU Net Sink 2030. Rehabilitasi mangrove oleh BPDAS Dodokan Moyosari di Lombok Timur dan Sumbawa menemukan kendala kelembagaan pada tahap prakondisi berupa komunikasi antarpihak yang belum terbuka, potensi konflik pemanfaatan ruang pesisir, dan keterbatasan kapasitas teknis kelompok tani. Kegiatan pengabdian ini memperkenalkan silvofishery pada April 2026 kepada delapan Kelompok Tani Hutan (KTH) di lima kecamatan sebagai pintu masuk penguatan teknis dan kelembagaan. Populasi sasaran kelembagaan terdiri atas 160 anggota KTH, sedangkan total kehadiran pada lima titik pertemuan sebanyak 100 peserta; sesi di Pemongkong juga melibatkan perangkat desa dan staf Resort Jerowaru. Metode kegiatan berupa penyuluhan partisipatif, demonstrasi teknis, dan diskusi dua arah. Evaluasi dilakukan secara deskriptif-kualitatif berdasarkan pengamatan langsung, notulensi, respons peserta, dan dokumen prakondisi; kegiatan tidak menggunakan pre-test dan post-test. Peserta menunjukkan respons positif dan ketertarikan terhadap budidaya kepiting bakau (Scylla spp.) dengan teknik kombuja dan keramba bambu, sementara diskusi menghasilkan kebutuhan tindak lanjut spesifik lokasi terkait pembagian peran, pengawasan, pemanfaatan ruang, dan akses pasar. Temuan tersebut diposisikan sebagai output dan outcome awal yang bersifat kualitatif, bukan bukti efektivitas kausal. Pendampingan berkelanjutan melalui kolaborasi perguruan tinggi, BPDAS/KPH, dan pemerintah desa, disertai evaluasi kuantitatif pre-post dan tindak lanjut, diperlukan untuk menilai perubahan kapasitas dan kelembagaan secara lebih kuat.