Strengthening religious culture in public schools requires leadership that can integrate religious values into the collective habits of the school community rather than limiting them to classroom instruction. This study aims to describe practices for strengthening religious culture at SMPN 1 Pringgasela, analyze the supporting and inhibiting factors in their implementation, and formulate a religious habituation ecosystem framework as a conceptual contribution to the development of character education in public schools. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and documentation from May to July 2024, involving 15 informants consisting of the school principal, Islamic Religious Education teachers, and students selected purposively. The data were analyzed interactively through data reduction, data display, conclusion drawing, and verification through member checking. The findings show that religious culture was developed through Smile, Greet, and Salutation or 3S, morning faith and piety activities, congregational Dhuhr and Dhuha prayers, Gema Haji or the Qur’an Recitation and Morning Dhuha Prayer Movement, almsgiving, classroom arrangements, and Ramadan pesantren activities. The implementation of these programs indicates the development of moral habits, discipline in worship, respectful social interaction, and student engagement in religious activities. Program sustainability was supported by parental involvement, adequate facilities, and a conducive school environment, while the main challenges included variations in students’ religious knowledge, uneven family support, and insufficiently controlled gadget use. The main contribution of this study is the religious habituation ecosystem framework, which integrates school leadership, religious routines, teacher role modeling, supporting facilities, family partnerships, and digital literacy as interconnected elements in strengthening religious culture in public schools. This framework broadens the understanding that religious character development is a process influenced by the interconnectedness of school culture, family, and the digital environment, while remaining relevant to character education aligned with SDG 4.7. ABSTRAK Penguatan budaya religius di sekolah negeri memerlukan kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama ke dalam kebiasaan kolektif warga sekolah, bukan hanya menjadikannya sebagai materi pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik penguatan budaya religius di SMPN 1 Pringgasela, menganalisis faktor pendukung dan penghambat pelaksanaannya, serta merumuskan kerangka ekosistem pembiasaan religius sebagai kontribusi konseptual bagi pengembangan pendidikan karakter di sekolah negeri. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi yang dilaksanakan pada Mei hingga Juli 2024 dengan melibatkan 15 informan yang terdiri atas kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, dan siswa yang dipilih secara purposif. Data dianalisis secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi melalui member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya religius dikembangkan melalui Senyum, Sapa, dan Salam atau 3S, Imtaq pagi, salat Zuhur dan Dhuha berjamaah, Gema Haji yakni Gerakan Mengaji dan Salat Dhuha Pagi, infaq dan shodaqoh, pengaturan kelas, serta pesantren Ramadhan. Pelaksanaan program-program tersebut menunjukkan perkembangan kebiasaan akhlak, kedisiplinan ibadah, kesantunan dalam interaksi sosial, dan keterlibatan siswa dalam kegiatan keagamaan. Keberlangsungan program didukung oleh keterlibatan orang tua, ketersediaan sarana, dan lingkungan sekolah yang kondusif, sedangkan hambatannya meliputi variasi pengetahuan agama siswa, dukungan keluarga yang tidak merata, serta penggunaan gadget yang kurang terkendali. Kontribusi utama penelitian ini adalah kerangka ekosistem pembiasaan religius yang mengintegrasikan kepemimpinan sekolah, rutinitas keagamaan, keteladanan guru, fasilitas pendukung, kemitraan keluarga, dan literasi digital sebagai unsur yang saling berkaitan dalam penguatan budaya religius di sekolah negeri. Kerangka ini memperluas pemahaman bahwa pembentukan karakter religius merupakan proses yang dipengaruhi oleh keterhubungan antara budaya sekolah, keluarga, dan lingkungan digital serta relevan dengan pendidikan karakter yang selaras dengan SDG 4.7.