This study aims to evaluate and analyze the current business model of an MSME in Malang and to formulate a structured and prioritized business model development roadmap using the Business Model Canvas (BMC) approach. This study employs a qualitative approach, with the researcher serving as the primary instrument and the business owner. Data were collected through observation of business operations, examination of supporting documents such as production records and sales data, and documentation of experiences related to business management. Data were analyzed using the Miles and Huberman interactive model, consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing, and were subsequently mapped onto the nine building blocks of the Business Model Canvas. The findings indicate that the MSME's main strength lies in its distinctive product value proposition, particularly its high meat-to-flour ratio and production without chemical preservatives, supported by both offline and online distribution channels. However, the analysis identified structural bottlenecks related to informal management practices, unstructured financial recording, suboptimal digital marketing, limited pricing flexibility, and incomplete legal and product certifications. Based on these findings, a four-phase business development roadmap was formulated, covering operational governance and internal standardization, brand identity and digital channel optimization, customer relationship management and revenue model innovation, and strategic partnering and ecosystem expansion. The roadmap provides a structured basis for addressing operational weaknesses, strengthening the business model, and supporting sustainable business development. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisis model bisnis dan merumuskan peta jalan pengembangan model bisnis pada salah satu UMKM di Kota Malang menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan peneliti sebagai instrumen utama sekaligus pemilik usaha. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap kegiatan operasional usaha, pemeriksaan dokumen pendukung seperti catatan produksi dan data penjualan, serta dokumentasi pengalaman yang berkaitan dengan pengelolaan usaha. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang terdiri atas reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, kemudian dipetakan ke dalam sembilan blok bangunan Business Model Canvas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama UMKM terletak pada proposisi nilai produk yang khas, khususnya rasio daging terhadap tepung yang tinggi dan penggunaan produk tanpa bahan pengawet kimia, yang didukung oleh saluran distribusi secara luring dan daring. Namun, analisis mengidentifikasi beberapa hambatan struktural yang berkaitan dengan praktik pengelolaan usaha yang informal, pencatatan keuangan yang tidak terstruktur, pemasaran digital yang belum optimal, fleksibilitas penetapan harga yang terbatas, serta sertifikasi legalitas dan produk yang belum lengkap. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan peta jalan pengembangan usaha dalam empat fase yang mencakup tata kelola operasional dan standardisasi internal, identitas merek dan optimalisasi saluran digital, manajemen hubungan pelanggan dan inovasi model pendapatan, serta kemitraan strategis dan perluasan ekosistem usaha. Peta jalan tersebut memberikan dasar yang terstruktur untuk mengatasi kelemahan operasional, memperkuat model bisnis, dan mendukung pengembangan usaha yang berkelanjutan.