Feriz Rizki Aditya
Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Merdeka Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Publikasi Event Japanese Pop Culture di Tengah Attention Economy: Sintesis Model AIDA dan Interaksi Parasosial Komunitas Joshua Nugrahatama Wijaya; Ana Mariani; Feriz Rizki Aditya
Journal of Communication Research Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jcr.v2i2.435

Abstract

The rapid growth of the Japanese pop culture event industry in Malang City during the 2024–2025 period demands adaptive marketing communication strategies amidst the attention economy. This study aims to analyze the operationalization of publication strategies based on the AIDA model (Attention, Interest, Desire, Action) across four event organizer typologies: Ikigai Project, Vibewall Japan Fest, Tako Team, and Nyanvarie Universe. Utilizing a qualitative descriptive approach, data were collected through in-depth interviews with four key informants, non-participant online observations on social media platforms, and archival documentation of promotional materials. Data were analyzed using the interactive model by Miles, Huberman, and Saldana, comprising data condensation, data display, and conclusion drawing, with data trustworthiness verified through source and technique triangulation. The findings reveal that the application of the AIDA model does not operate in a top-down linear manner, but rather transforms into "Collaborative AIDA." The Attention stage is executed via high-contrast visual strategies and structured timing; Interest and Desire are stimulated through social media admin personification, cultural proximity using local dialects, and social proof; while Action is optimized through digital transactions and on-the-spot ticket sales. In conclusion, publication success is determined by the organizer's ability to integrate the formal AIDA framework with participatory culture, activating the community as voluntary co-promoters. Pesatnya perkembangan industri kreatif event budaya populer Jepang di Kota Malang periode 2024–2025 menuntut strategi komunikasi pemasaran yang adaptif di tengah iklim attention economy. Penelitian ini bertujuan menganalisis operasionalisasi strategi publikasi berbasis model AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) pada empat tipologi penyelenggara event: Ikigai Project, Vibewall Japan Fest, Tako Team, dan Nyanvarie Universe. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam bersama empat informan kunci, observasi non-partisipan pada platform media sosial, dan studi dokumentasi arsip promosi. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang meliputi tahap kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan, dengan uji keabsahan data melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penerapan model AIDA tidak berlangsung secara linear satu arah, melainkan bertransformasi menjadi Collaborative AIDA. Tahap Attention dieksekusi melalui strategi visual kontras dan manajemen waktu terukur; Interest dan Desire dirangsang melalui personifikasi admin media sosial, kedekatan budaya (cultural proximity) dialek lokal, serta bukti sosial (social proof); sementara Action dioptimalkan via transaksi digital dan penjualan tiket di lokasi. Kesimpulannya, keberhasilan publikasi ditentukan oleh kemampuan penyelenggara mengintegrasikan strategi AIDA dengan budaya partisipatoris komunitas sebagai agen promosi sukarela (co-promoter).
Konstruksi Komunikasi Organisasi Berbasis Four Flows Model dalam Penyelarasan Aspirasi Masyarakat dan Batas Anggaran Legislatif Daerah Widja Waty Namsa; Aryo Prakoso Wibowo; Feriz Rizki Aditya
Journal of Communication Research Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Yayasan Lentera Avanya Nagari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61105/jcr.v2i2.437

Abstract

This study aims to analyze the internal communication patterns and coordination mechanisms of Commission I of the Blitar Regency DPRD in planning work programs within the Law and Governance sector. This research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data collection was conducted through in-depth interviews, field observations, and documentation studies involving the leadership, members of Commission I, and the DPRD Secretariat Staff. Data analysis applied the interactive model of Miles, Huberman, and Saldanha based on the theoretical framework of organizational communication and the Four Flows Model, which includes membership negotiation, reflective self-structuring, activity coordination, and institutional positioning. The results indicate that internal communication within Commission I takes place in a structured, dynamic, and repetitive manner through a combination of formal and informal channels. Vertical and horizontal communication flows actively develop within meeting forums, while diagonal communication with the DPRD Secretariat plays a vital role in aligning public recess aspirations with regional budget constraints. Furthermore, a conceptual tension was identified between compliance with formal standing orders requiring a physical quorum and the demand for flexible daily coordination via digital media. Overall, effective internal communication patterns are proven to be crucial in building mutual understanding and facilitating institutional work program planning. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola komunikasi dan mekanisme koordinasi internal Komisi I DPRD Kabupaten Blitar dalam upaya perencanaan program kerja pada bidang Hukum dan Tata Pemerintahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, serta studi dokumentasi terhadap pimpinan, anggota Komisi I, dan Staf Sekretariat DPRD. Analisis data menerapkan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldanha berdasarkan kerangka teori komunikasi organisasi dan Four Flows Model, yang mencakup negosiasi keanggotaan, penataan diri reflektif, koordinasi aktivitas, serta penempatan institusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi internal Komisi I berlangsung secara terstruktur, dinamis, dan berulang melalui kombinasi saluran komunikasi formal dan informal. Alur komunikasi vertikal dan horizontal terbangun secara aktif dalam forum rapat, sementara komunikasi diagonal bersama Sekretariat DPRD berperan vital dalam menyelaraskan antara aspirasi reses masyarakat dan keterbatasan anggaran daerah. Selain itu, ditemukan adanya ketegangan antara kepatuhan tata tertib formal yang mewajibkan kuorum fisik dengan kebutuhan koordinasi harian yang fleksibel berbasis media digital. Secara keseluruhan, pola komunikasi internal yang efektif terbukti krusial dalam menciptakan kesepahaman dan kelancaran perencanaan program kerja kelembagaan.