The story of Abraham's family in Genesis 12–25 is usually read through calling, covenant, and faith, while marital conflict, power relations, and threats to family survival receive less attention. This study analyzes conflict dynamics, interaction patterns, and faith resilience in Abraham's family and their implications for biblical family counseling, using narrative exegesis of Genesis 12–22, with family-systems and resilience concepts applied heuristically after the text's meaning was established through its literary-theological context. Findings reveal recurring anxiety-control-conflict patterns, triangulation, and avoidance, balanced by de-escalation and renewed orientation to the promise; resilience means refocusing on God's faithfulness after failure, not its absence. Unlike prior studies, which examine isolated episodes—e.g., Genesis 16 or 21 alone—or treat Abraham's faith and family system separately, this study integrates conflict, interaction, and resilience across the whole cycle, proposing a four-step exegetical-practical counseling framework: mapping relational patterns, naming anxiety and power, reorienting to God's promise, and practicing new relational responses. Abstrak Kisah keluarga Abraham dalam Kejadian 12–25 umumnya dibaca melalui tema panggilan, perjanjian, dan iman, sementara konflik suami-istri, relasi kuasa, dan ancaman keberlangsungan keluarga kurang mendapat perhatian. Penelitian ini menganalisis dinamika konflik, pola interaksi, dan ketahanan iman dalam keluarga Abraham serta implikasinya bagi konseling keluarga Alkitabiah, menggunakan eksegesis naratif atas Kejadian 12–22, dengan konsep sistem keluarga dan resiliensi diterapkan secara heuristik setelah makna teks ditentukan melalui konteks sastra-teologisnya. Hasil penelitian menunjukkan pola berulang kecemasan-kontrol-konflik, triangulasi, dan penghindaran tanggung jawab, yang diimbangi oleh de-eskalasi dan reorientasi kepada janji; ketahanan iman berarti kembali berfokus pada kesetiaan Allah setelah kegagalan, bukan ketiadaan kegagalan itu sendiri. Berbeda dari penelitian terdahulu, yang umumnya membahas episode tunggal—misalnya hanya Kejadian 16 atau hanya Kejadian 21—atau membahas iman dan sistem keluarga Abraham secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan konflik, interaksi, dan ketahanan iman sepanjang satu siklus penuh, serta mengusulkan kerangka konseling eksegetis-praktis empat langkah: memetakan pola relasional, menamai kecemasan dan kuasa, mereorientasikan keluarga kepada janji Allah, dan melatih respons relasional baru.