Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Implementasi Sembilan Langkah Perencanaan Berbasis Kebutuhan Masyarakat pada Taman Bacaan Masyarakat: Praktik Baik Garda Cendekia Sidiq Nulhaq; Irvan Irvani; Fahmi Al Ghiffari
Babakti: Journal of Community Engangement Vol 3 No 2 (2026): October
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Singaperbangsa Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35706/babakti.v3i2.13271

Abstract

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Indonesia banyak didirikan dengan motivasi yang baik, tetapi sebagian menghadapi tantangan menjaga relevansi program dan keberlanjutan layanan. Artikel ini mendokumentasikan praktik baik Garda Cendekia di Kabupaten Lebak, Banten, dalam menerapkan sembilan langkah perencanaan berbasis kebutuhan masyarakat sejak perintisan pada 2018. Sembilan langkah tersebut meliputi asesmen kebutuhan partisipatif, analisis akar masalah, perumusan tujuan dan penerima manfaat, penyusunan kerangka kerja logis (logframe), perancangan aktivitas dan layanan, pemetaan dan pembangunan kemitraan, penyusunan anggaran-jadwal-tim, monitoring dan evaluasi, serta strategi keberlanjutan. Dokumentasi praktik disusun melalui penelusuran dokumen organisasi, profil Garda Cendekia, catatan layanan dan kunjungan, data koleksi dan peminjaman, struktur kepengurusan, dokumen kemitraan, serta dokumentasi kegiatan. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa Garda Cendekia berkembang dari sembilan pemuda perintis menjadi organisasi dengan 21 pengurus pada lima departemen; koleksi perpustakaan masyarakat mencapai 2.277 judul; tersedia dua ruang milik sendiri untuk layanan perpustakaan dan kegiatan literasi; serta terbangun lebih dari dua puluh kemitraan dengan pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi nasional dan internasional. Profil organisasi juga menunjukkan pencatatan layanan secara berkala dan pengembangan layanan yang ramah anak. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana prinsip perencanaan berbasis kebutuhan dapat diterjemahkan menjadi praktik kerja yang sederhana, siklis, dan adaptif pada skala komunitas. Artikel ini menempatkan sembilan langkah bukan sebagai resep tunggal, melainkan sebagai kerangka belajar yang membantu Garda Cendekia menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan desain layanan, kemitraan, pengelolaan sumber daya, monitoring, dan keberlanjutan. Karena dokumentasi berasal dari satu organisasi dan tidak menggunakan desain eksperimen atau pembanding, hubungan kausal antara penerapan sembilan langkah dan setiap capaian organisasi tidak dapat dipastikan. Nilai utama praktik ini terletak pada dokumentasi proses, bukti perkembangan organisasi, serta perangkat kerja yang dapat diadaptasi oleh komunitas literasi lain.