Mangokal Holi merupakan salah satu tradisi sakral masyarakat Batak Toba yang melibatkan kegiatan menggali dan memindahkan tulang belulang leluhur ke tempat yang lebih terhormat, seperti tugu atau monumen keluarga yang bersifat permanen. Tradisi ini bukan sekadar ritual pemindahan jasad, melainkan sarana untuk menegaskan kembali kedudukan leluhur dalam struktur kekerabatan (dalihan na tolu) serta wujud penghormatan tertinggi keturunan kepada para pendahulunya. Upacara ini mencerminkan keyakinan masyarakat Batak Toba bahwa ikatan spiritual antara leluhur dan keturunannya yang masih hidup tetap terjaga meskipun sang leluhur telah tiada, sehingga pelaksanaannya dipandang sebagai kewajiban adat yang sarat makna religius dan sosial. Namun demikian, seiring berjalannya waktu, eksistensi tradisi ini menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi mengancam kelestariannya. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya pelestarian pelaksanaan adat Mangokal Holi oleh masyarakat adat Batak Toba di tengah dinamika perubahan sosial saat ini. Penelitian ini menggunakan metode empiris, yaitu pendekatan yang berbasis pada observasi langsung, pengalaman nyata, serta pengamatan lapangan guna memahami bagaimana tradisi Mangokal Holi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya menggali fakta-fakta empiris di lapangan sebagai dasar untuk memahami dinamika pelaksanaan tradisi tersebut secara lebih mendalam dan kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan upacara Mangokal Holi mengalami penurunan yang signifikan di masa kini. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya perkembangan zaman yang mendorong pergeseran nilai dan gaya hidup masyarakat, keterbatasan ekonomi yang menjadi kendala utama mengingat besarnya biaya pelaksanaan upacara, serta rendahnya minat dan pemahaman generasi muda terhadap tradisi leluhur mereka akibat kurangnya transmisi pengetahuan adat secara berkelanjutan. Sebagai respons atas kondisi tersebut, parhata Kota Balige melakukan upaya pelestarian dengan cara memberikan edukasi kepada generasi muda mengenai makna dan pentingnya upacara Mangokal Holi sebagai bentuk penghormatan serta pengenangan terhadap para nenek moyang. Upaya ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya Batak Toba agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Kata Kunci: Mangokal Holi, Batak Toba, Generasi Muda Mangokal Holi is one of the sacred traditions of the Batak Toba community, involving the excavation and relocation of ancestral bones to a more honorable place, such as a family tugu (monument) of a permanent nature. This tradition is not merely a ritual of relocating remains, but also a means of reaffirming the position of ancestors within the kinship structure (dalihan na tolu) and a manifestation of the highest respect that descendants pay to their forebears. This ceremony reflects the belief of the Batak Toba community that the spiritual bond between ancestors and their living descendants remains intact even after the ancestor has passed away, making its performance regarded as a customary obligation imbued with religious and social significance. However, over time, the existence of this tradition faces various challenges that potentially threaten its sustainability. Based on this background, the research problem formulated in this study is how the Batak Toba indigenous community undertakes efforts to preserve the practice of the Mangokal Holi customary ceremony amid the current dynamics of social change. This research employs an empirical method, namely an approach based on direct observation, real-life experience, and field observation to understand how the Mangokal Holi tradition is practiced in society today. Through this approach, the researcher seeks to gather empirical facts in the field as a basis for understanding the dynamics of the tradition's implementation in a more in-depth and contextual manner. The research results indicate that the implementation of the Mangokal Holi ceremony has experienced a significant decline in recent times. This decline is caused by several factors, including the development of the times that has driven shifts in societal values and lifestyles, economic limitations that have become a major obstacle given the substantial costs required to hold the ceremony, and the low interest and understanding among the younger generation regarding their ancestral traditions due to the lack of sustained transmission of customary knowledge. In response to these conditions, the parhata (customary spokespersons) of Balige City have made preservation efforts by providing education to the younger generation about the meaning and importance of the Mangokal Holi ceremony as a form of respect and remembrance for their ancestors. This effort is expected to serve as a strategic step in maintaining the continuity of Batak Toba cultural values so that they remain alive and can be passed down to future generations. Keywords: Mangokal Holi, Batak Toba, Young Generation