Penelitian ini bertujuan untuk mengkritisi relevansi dan linearitas model AIDA (Awareness, Interest, Desire, Action) dalam ekosistem pemasaran digital kontemporer melalui studi kasus Sambal Bakar Indonesia oleh Benjamin Master Adhisurya atau Iben MA. Model AIDA tradisional yang secara sekuensial memetakan perjalanan konsumen kini menghadapi tantangan besar akibat percepatan algoritma media sosial yang disruptif dan didukung oleh teknologi digital. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis bagaimana strategi pemasaran kuliner yang mengandalkan viralitas mampu mendisrupsi corong pemasaran konvensional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa di platform seperti TikTok dan Instagram Reels, tahap Awareness sering kali berujung langsung pada Action (pembelian atau kunjungan) tanpa harus melewati fase Interest dan Desire secara mendalam. Kekuatan personal branding Iben MA menjadi faktor penentu yang membangun loyalitas pelanggan secara instan melalui hubungan emosional yang kuat di media sosial. Hal ini mengindikasikan bahwa model linear AIDA perlu di dekonstruksi dan diintegrasikan dengan delapan langkah perencanaan pemasaran konten guna mempertahankan daya saing produk di pasar yang kompetitif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam industri kreatif, tahap evaluasi dan perbaikan konten secara berkala jauh lebih krusial daripada sekadar mengikuti urutan kaku dalam proses pengambilan keputusan konsumen digital. Secara keseluruhan, strategi inovatif Sambal Bakar Indonesia memberikan perspektif baru mengenai pentingnya adaptabilitas strategi pemasaran terhadap tren industri terkini.