Agus Himmawan Utomo
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

From Respect to the Potential for Domination: The Power Relationship Between Educators and Students in Ta'lim al-Muta'allim Agus Hamzah; Hastanti Widy Nugroho; Agus Himmawan Utomo
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i3.483

Abstract

Respect for educators is central to Islamic educational ethics, yet its relationship with pedagogical authority requires clarification when respect becomes associated with obedience. This study analyzes how ta’zim in Ta’lim al-Muta’allim structures power relations between educators and students and identifies conditions under which legitimate pedagogical authority may create the potential for domination. The study employs a qualitative literature design with a philosophical and conceptual approach, treating ta’zim as the material object and pedagogical power relations as the formal object. Textual identification, relational categorization, conceptual interpretation, analytical reconstruction, theoretical dialogue, and interpretive assessment were used to examine the relationship among respect, hierarchy, legitimacy, authority, and obedience. The findings show that ta’zim establishes pedagogical hierarchy through recognition of educators’ qualifications and legitimizes authority that generates expectations of obedience. Domination is not inherent in ta’zim; its potential emerges when authority shifts from pedagogical responsibility toward personal status while opportunities to evaluate or correct its exercise diminish. These findings clarify boundaries between legitimate authority and domination, although their conceptual nature limits empirical generalization to contemporary educational settings. Penghormatan kepada pendidik merupakan bagian penting dalam etika pendidikan Islam, tetapi hubungannya dengan otoritas pedagogis memerlukan penjelasan ketika penghormatan berkaitan dengan kepatuhan. Penelitian ini menganalisis bagaimana ta’zim dalam Ta’lim al-Muta’allim membentuk relasi kuasa antara pendidik dan peserta didik serta mengidentifikasi kondisi ketika otoritas pedagogis yang sah dapat membuka potensi dominasi. Penelitian menggunakan desain kualitatif berbasis kepustakaan dengan pendekatan filosofis dan konseptual, dengan ta’zim sebagai objek material dan relasi kuasa pedagogis sebagai objek formal. Analisis dilakukan melalui identifikasi tekstual, kategorisasi relasional, interpretasi konseptual, rekonstruksi analitis, dialog teoretis, dan penilaian interpretatif terhadap hubungan penghormatan, hierarki, legitimasi, otoritas, dan kepatuhan. Temuan menunjukkan bahwa ta’zim membentuk hierarki pedagogis melalui pengakuan terhadap kualifikasi pendidik dan melegitimasi otoritas yang menghasilkan ekspektasi kepatuhan. Dominasi bukan konsekuensi inheren ta’zim; potensinya muncul ketika dasar otoritas bergeser dari tanggung jawab pedagogis menuju status personal, sementara ruang untuk mengevaluasi atau mengoreksi pelaksanaan otoritas semakin terbatas. Temuan ini memperjelas batas antara otoritas yang sah dan dominasi, meskipun sifat konseptual penelitian membatasi generalisasi empiris terhadap konteks pendidikan kontemporer.
Rethinking Ta'zim and the Ethical Limits of Educational Authority through Phronesis in Educator Student Relationships Agus Hamzah; Hastanti Widy Nugroho; Agus Himmawan Utomo
Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Vol. 4 No. 3 (2026): Chatra: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran (In Press)
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/chatra.v4i3.492

Abstract

Respect for educators remains important in educational relationships, yet it becomes ethically problematic when interpreted as absolute obedience that places educators' actions beyond moral evaluation. This study examines how ta'zim can retain its educational significance while establishing ethical limits on educational authority through the Aristotelian concept of phronesis. The study employed qualitative, library-based philosophical inquiry, using Ta'lim al-Muta'allim and Nicomachean Ethics as primary texts and relevant educational scholarship as secondary literature. The analysis involved description, interpretation, and critical normative evaluation. The findings show that ta'zim is better understood as a relational virtue connecting learners' respect with educators' moral responsibility. Phronesis provides a normative basis for evaluating authority through educational purpose, proportionality, learners' dignity and well-being, and character formation. Violence justified through discipline or respect represents a failure of practical wisdom rather than an inherent consequence of ta'zim. This framework offers a conceptual basis for ethically responsible educational authority while requiring further empirical examination across educational settings.Penghormatan kepada pendidik tetap penting dalam hubungan pendidikan, tetapi menjadi persoalan etis ketika dimaknai sebagai kepatuhan absolut yang menempatkan tindakan pendidik di luar evaluasi moral. Penelitian ini mengkaji bagaimana ta'zim dapat mempertahankan makna pendidikannya sekaligus menetapkan batas etis otoritas pendidikan melalui konsep Aristotelian phronesis. Penelitian menggunakan kajian filosofis kualitatif berbasis kepustakaan dengan Ta'lim al-Muta'allim dan Nicomachean Ethics sebagai teks primer serta literatur pendidikan yang relevan sebagai sumber sekunder. Analisis dilakukan melalui tahap deskripsi, interpretasi, dan evaluasi normatif kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ta'zim lebih tepat dipahami sebagai kebajikan relasional yang menghubungkan penghormatan peserta didik dengan tanggung jawab moral pendidik. Phronesis memberikan dasar normatif untuk menilai otoritas berdasarkan tujuan pendidikan, proporsionalitas, martabat dan kesejahteraan peserta didik, serta pembentukan karakter. Kekerasan yang dibenarkan melalui disiplin atau penghormatan merupakan kegagalan kebijaksanaan praktis, bukan konsekuensi inheren dari ta'zim. Kerangka ini menawarkan dasar konseptual bagi penggunaan otoritas pendidikan yang bertanggung jawab secara etis dan masih memerlukan pengujian empiris dalam beragam konteks pendidikan.