Abstract: Indonesia is facing a mental health crisis, with 20% of its population at risk. In Medan City, the 15–24 age group shows the highest prevalence of depression, necessitating a shift from restrictive environments to restorative psychiatric facilities. This study aims to design a Type C Psychiatric Hospital in Medan Polonia by utilizing Green Architecture concepts to balance clinical safety with a healing atmosphere. The research method employed is a qualitative descriptive method with an architectural design approach consisting of six systematic stages: (1) identifying safety and environmental issues; (2) reviewing psychiatric and green building standards; (3) analyzing site and micro-climate conditions; (4) conducting spatial and circulation programming; (5) synthesizing the concept; and (6) transforming the concept into the final architectural design. The integration of the GREENSHIP framework focuses on Appropriate Site Development (ASD) through a multi-mass strategy to reduce institutional rigidity, and Indoor Health and Comfort (IHC) by utilizing radial circulation and healing gardens for constant connectivity to nature. The design employs fluid-curvilinear forms to eliminate intimidating sharp corners, ensuring a psychologically secure environment. This project demonstrates that green, nature-integrated architecture can effectively reduce social stigma and accelerate the recovery process for youth patients. Keywords: Sustainable Architecture, Green Architecture, Green Hospital, Mental Health Hospital Abstrak: Indonesia sedang menghadapi krisis kesehatan jiwa, dengan 20% populasinya berada dalam kondisi berisiko. Di Kota Medan, kelompok usia 15–24 tahun menunjukkan prevalensi depresi tertinggi, sehingga diperlukan peralihan dari lingkungan yang bersifat membatasi menuju fasilitas psikiatri yang bersifat restoratif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Rumah Sakit Jiwa Tipe C di Medan Polonia dengan memanfaatkan konsep Arsitektur Hijau guna menyeimbangkan keamanan klinis dengan suasana penyembuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan perancangan arsitektur yang terdiri dari enam tahapan sistematis: (1) identifikasi isu keamanan dan lingkungan; (2) tinjauan standar bangunan hijau dan psikiatri; (3) analisis kondisi tapak dan mikroklimat; (4) pemrograman ruang dan sirkulasi; (5) sintesis konsep; dan (6) transformasi konsep ke dalam desain arsitektur akhir. Integrasi kerangka kerja GREENSHIP berfokus pada Appropriate Site Development (ASD) melalui strategi multi-massa untuk mengurangi kekakuan institusional, serta Indoor Health and Comfort (IHC) dengan memanfaatkan sirkulasi radial dan taman penyembuhan (healing gardens) untuk konektivitas konstan dengan alam. Desain ini menggunakan bentuk melengkung yang dinamis, untuk menghilangkan sudut tajam yang mengintimidasi, guna memastikan lingkungan yang aman secara psikologis. Proyek ini menunjukkan bahwa arsitektur hijau yang terintegrasi dengan alam dapat secara efektif mengurangi stigma sosial dan mempercepat proses pemulihan bagi pasien remaja. Kata Kunci: Arsitektur Berkelanjutan, Arsitektur Hijau, Rumah Sakit Hijau, Rumah Sakit Jiwa