Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DARI WASIAT KE PARADIGMA: MEMBACA ULANG PESAN KH AHMAD DAHLAN TENTANG INTEGRASI ILMU MELALUI HERMENEUTIKA GADAMER DARI WASIAT KE PARADIGMA: MEMBACA ULANG PESAN KH AHMAD DAHLAN TENTANG INTEGRASI ILMU MELALUI HERMENEUTIKA GADAMER Miqdam Awwali Hashri; Iik Arifin Mansurnoor
JURNAL KEMUHAMMADIYAHAN DAN INTEGRASI ILMU Vol. 4 No. 1 (2026): Juni
Publisher : LPP AIK UMJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berfokus untuk mengungkap interpretasi wasiat KH Ahmad Dahlan yang tercatat dalam naskah buku karya Kiai Sudja' dengan menggunakan pendekatan hermeneutika untuk memahami maknanya dalam konteks sosial, budaya, dan sejarah pada masanya dan masa saat ini. Meskipun pemikiran KH Ahmad Dahlan telah banyak dikaji dari berbagai perspektif, belum ada penelitian yang secara khusus menjadikan teks wasiatnya sebagai objek analisis hermeneutika yang berdiri sendiri; kajian-kajian terdahulu umumnya menempatkan wasiat tersebut sebatas sebagai data historis pendukung, bukan sebagai teks yang kaya makna filosofis dan pedagogis. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan mengeksplorasi relevansi wasiat KH Ahmad Dahlan dalam modernisasi pendidikan dan Studi Islam serta kontribusinya terhadap kemajuan sistem pendidikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dengan pendekatan hermeneutika filosofis Gadamer untuk menginterpretasikan teks wasiat KH Ahmad Dahlan, dengan menelaah makna historis, sosial, dan filosofisnya serta relevansinya dalam menghadapi tantangan kontemporer pendidikan dan Studi Islam di Indonesia. Temuan utama penelitian ini adalah bahwa KH Ahmad Dahlan telah mengidentifikasi krisis umat Islam sebagai persoalan multidimensional yang menuntut integrasi ilmu agama dan pengetahuan umum melalui pendekatan multidisipliner, interdisipliner, dan transdisipliner (MIT) serta pembaruan intelektual dalam memajukan umat. Kebaruan penelitian ini terletak pada tiga hal: pertama, menjadikan teks wasiat sebagai objek analisis hermeneutika Gadamer yang berdiri sendiri; kedua, menginterpretasikan metafora 'gayung' sebagai fondasi epistemologis pendidikan MIT; dan ketiga, mengangkat profil KH Ibrahim secara lebih sistematis sebagai penerima wasiat yang selama ini kurang mendapat perhatian akademik.