Nisma
Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Praktik Spiritual Tasawuf Terhadap Kesejahteraan Jiwa (Well-Being Masyarakat Perkotaan) Nisma; Jumardi
Tabsyir: Jurnal Dakwah dan Sosial Humaniora Vol. 7 No. 4 (2026): Oktober : Tabsyir: Jurnal Dakwah dan Sosial Humaniora
Publisher : STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59059/tabsyir.v7i4.3482

Abstract

The revival of Sufism among urban communities is an intriguing phenomenon amid the rapid development of science and technology. Technological advancement, which was initially expected to improve the quality of human life, has not fully succeeded in fulfilling the inner and spiritual needs of modern society. This condition has contributed to various social and psychological problems, including anxiety, alienation, a loss of meaning in life, and the weakening of moral values. In such circumstances, religious practices that are limited to formal and ritualistic aspects without deep spiritual internalization may further intensify the experience of alienation among urban communities. Sufism has consequently emerged as an alternative approach to fulfilling spiritual needs by emphasizing self-purification, closeness to God, the internalization of religious values, and the cultivation of moral character. Therefore, the renewed interest in Sufism can be understood as a response from modern society to the limitations of materialism and rationalism in providing inner peace and meaning in life. This spiritual revival is expected to contribute to addressing spiritual and moral crises while fostering a more balanced urban life that integrates material progress, spiritual depth, and social responsibility. Kebangkitan kembali sufisme di kalangan masyarakat perkotaan merupakan fenomena yang menarik di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Kemajuan teknologi yang pada awalnya diharapkan mampu meningkatkan kualitas kehidupan manusia ternyata belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan batin dan spiritual masyarakat modern. Kondisi tersebut turut melahirkan berbagai persoalan sosial dan psikologis, seperti kecemasan, keterasingan, kekosongan makna hidup, serta melemahnya orientasi moral. Dalam situasi demikian, kehidupan keberagamaan yang hanya berorientasi pada aspek formal dan ritual tanpa disertai penghayatan spiritual yang mendalam dapat semakin memperkuat pengalaman alienasi dalam kehidupan masyarakat perkotaan. Sufisme kemudian hadir sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan spiritual melalui penekanan pada penyucian jiwa, kedekatan kepada Allah, penghayatan nilai-nilai keagamaan, dan pembentukan akhlak. Oleh karena itu, munculnya kembali minat terhadap sufisme dapat dipahami sebagai respons masyarakat modern terhadap keterbatasan materialisme dan rasionalisme dalam memberikan ketenangan serta makna kehidupan. Kebangkitan spiritual tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam mengatasi krisis spiritual dan moral sekaligus membangun kehidupan masyarakat perkotaan yang lebih seimbang antara kemajuan material, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial.