Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENERAPAN TERAPI INHALASI DAN PENGATURAN POSISI HIGH-FOWLER UNTUK MENGATASI BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN ASMA BRONKIAL DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ROYAL PRIMA JAMBI Elga Yayang Adya Fasha; Sri Rejeki; Risna Meliyani; Margareta Pratiwi
Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 4 (2026): Volume 4, Nomor 4, Tahun 2026
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jiik.v4i4.63402

Abstract

Asma bronkial merupakan penyakit inflamasi kronis saluran pernapasan yang ditandai bronkospasme, peningkatan produksi mukus, sesak napas, batuk, dan mengi sehingga dapat menimbulkan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Terapi inhalasi menggunakan nebulizer yang dikombinasikan dengan posisi high-Fowler dapat membantu memperbaiki ventilasi dan mempertahankan kepatenan jalan napas. Studi ini bertujuan menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan melalui penerapan terapi inhalasi dan posisi high-Fowler pada pasien asma bronkial dengan bersihan jalan napas tidak efektif di ruang rawat inap Rumah Sakit Royal Prima Jambi. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif terhadap satu pasien dewasa dengan diagnosis asma bronkial. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan telaah dokumentasi. Intervensi berupa pengaturan posisi high-Fowler 90° dan terapi inhalasi nebulizer diberikan secara kolaboratif sesuai program medis selama tiga hari. Evaluasi meliputi frekuensi dan pola napas, saturasi oksigen, suara napas, kemampuan batuk dan mengeluarkan sekret, penggunaan otot bantu pernapasan, serta tingkat sesak. Pada hari pertama, pasien masih mengalami sesak, frekuensi napas 29 kali/menit, penggunaan otot bantu pernapasan, retraksi dinding dada, dan wheezing. Hari kedua menunjukkan penurunan sesak dan frekuensi napas menjadi 24 kali/menit. Pada hari ketiga, sesak tidak lagi dirasakan dan frekuensi napas menurun menjadi 19 kali/menit. Penggunaan otot bantu pernapasan dan retraksi tidak ditemukan, sedangkan wheezing tidak terdengar. Masalah bersihan jalan napas tidak efektif dinilai teratasi dan intervensi dihentikan. Kombinasi terapi inhalasi nebulizer dan posisi high-Fowler membantu memperbaiki status respirasi pasien asma bronkial. Intervensi perlu disertai pemantauan dan evaluasi respons pasien secara berkala sesuai kondisi klinis untuk memastikan keamanan, efektivitas, dan keberlanjutan hasil asuhan keperawatan optimal.