Nilatul Izah
Universitas Muhammadiyah Tegal

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Determinasi Weight Faltering pada Balita: Kajian Faktor Nutrisi, Infeksi, dan Pola Asuh Usia 12–36 Bulan resty himma muliani; Sa'adah Handayani; Nilatul Izah; Fitriana Rakhimah
Jurnal Ilmu Kebidanan Vol 16, No 2 (2026): Jurnal Ilmu Kebidanan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Adila Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Weight faltering merupakan kondisi stagnasi atau ketidakadekuatan kenaikan berat badan yang dapat menjadi indikator awal gangguan pertumbuhan pada balita. Faktor nutrisi, infeksi, dan pola asuh diduga berperan terhadap terjadinya weight faltering, khususnya pada usia 12–36 bulan yang merupakan periode kritis pertumbuhan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan weight faltering pada balita usia 12–36 bulan berdasarkan faktor nutrisi, infeksi, dan pola asuh serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 30 balita usia 12–36 bulan yang dipilih menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, food recall 24 jam, wawancara riwayat infeksi, dan kuesioner pola asuh. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: ditemukan 12 balita (40,0%) mengalami weight faltering. Kejadian weight faltering lebih banyak ditemukan pada balita dengan asupan nutrisi tidak adekuat (66,7%), memiliki riwayat infeksi berulang (75,0%), dan pola asuh kurang optimal (58,3%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara asupan nutrisi tidak adekuat (p=0,018), riwayat infeksi (p=0,006), dan pola asuh (p=0,041) dengan kejadian weight faltering. Hasil regresi logistik menunjukkan bahwa riwayat infeksi merupakan faktor yang paling kuat berasosiasi dengan weight faltering (OR=4,82; 95% CI: 1,24–18,76), setelah dikontrol oleh faktor nutrisi dan pola asuh. Kesimpulan: Data menunjukkan bahwa faktor nutrisi, infeksi, dan pola asuh berhubungan dengan kejadian weight faltering, dengan riwayat infeksi menunjukkan asosiasi paling kuat. Temuan ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan strategi deteksi dini dan intervensi promotif-preventif pada balita usia 12–36 bulan. Kata kunci: Weight faltering; balita; nutrisi; penyakit infeksi; pola asuh.
ANALISIS FAKTOR RISIKO POSTPARTUM BLUES PADA IBU NIFAS: LITERATURE REVIEW Fitriana Rakhimah; Nilatul Izah; Sa’adah Handayani
The Shine Cahaya Dunia Kebidanan Vol. 11 No. 01 (2026): The Shine Cahaya Dunia Kebidanan
Publisher : Lppm Unan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang: Postpartum blues adalah gangguan suasana hati ringan pada minggu-minggu awal setelah persalinan yang dapat berlanjut menjadi depresi postpartum. Faktor risikonya beragam dan hasil penelitian belum selalu konsisten. Tujuan: Merangkum dan menganalisis faktor risiko postpartum blues pada ibu nifas berdasarkan penelitian tahun 2018-2025. Metode: Literature review naratif terhadap 29 artikel (7 internasional dan 22 Indonesia) yang dipublikasikan 2018-2025, ditelusuri melalui mesin pencari web dan portal jurnal terbuka. Data diekstraksi ke dalam tabel dan disintesis secara tematik. Hasil: Faktor yang paling konsisten dilaporkan adalah dukungan suami dan keluarga. Usia ibu, pendidikan, jenis persalinan, perencanaan kehamilan, serta komplikasi dan prematuritas juga dilaporkan berhubungan, sedangkan temuan tentang paritas tidak konsisten. Riwayat gangguan psikiatri, trauma masa kecil, dan stres selama kehamilan dilaporkan pada kohort internasional. Kesimpulan: Dukungan suami dan keluarga merupakan faktor yang paling sering dilaporkan berhubungan dengan postpartum blues, sehingga skrining dini dan edukasi yang melibatkan suami dan keluarga perlu diperkuat.Skrining dan edukasi masa nifas perlu mempertimbangkan faktor psikososial, obstetri, dan karakteristik ibu secara terpadu.