Sungai Percut mengalir dari hulu Sibolangit dan melintasi Kota Medan menuju daerah hilir di Kecamatan Percut Sei Tuan. Sungai ini menjadi tempat pembuangan limbah dan sampah yang berdampak pada kualitas air. Penelitian ini menganalisis status mutu air untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan lahan terhadap kondisi mutu air Sungai Percut. Pengambilan sampel air dilakukan di lima titik sampling dari hulu sampai ke hilir. Parameter yang dianalisis yaitu parameter fisika, kimia, dan biologi dengan metode Indeks Pencemaran (IP) sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status mutu air Sungai Percut tercemar ringan. Nilai IP tertinggi diperoleh di Titik 1 (daerah hulu) sebesar 3,55 akibat longsor yang terjadi sebulan sebelum penelitian dan hujan pada hari pengambilan sampel, diikuti dengan nilai IP sebesar 3,06 di Titik 5 (daerah hilir) akibat pemanfaatan lahan yang beragam di sekitar titik sampling seperti permukiman, pertanian, perkebunan, pertambakan, dan akumulasi beban pencemar yang berasal dari hulu. Nilai IP terendah sebesar 2,21 ditemukan di Titik 4 yang merupakan daerah permukiman. Nilai BOD semakin tinggi ke daerah hilir dengan nilai tertinggi 4,05 mg/L yang melebihi baku mutu ditemukan di Titik 5, mengindikasikan pencemaran Sungai Percut disebabkan oleh limbah organik. Pemantauan kualitas air dan pengawasan penting dilakukan untuk mengetahui strategi pengelolaan dan pengendalian pencemaran yang tepat agar status mutu air Sungai Percut dapat dipertahankan sesuai peruntukannya. Selain itu, kondisi hutan di daerah hulu harus tetap dipertahankan dan pemanfaatan lahan pertanian dan permukiman harus dikontrol dengan tidak membuang limbah ke sungai.