Oral traditions within the Lamaholot community currently face generational attrition and semantic dilution due to inadequate comprehensive linguistic-aesthetic documentation. Previous inquiries into oral performing arts have predominantly been restricted to broad ethnographic sketches without dissecting figurative tropes as repositories of ancestral philosophies. This condition underscores the critical necessity of a systematic inquiry into linguistic devices to safeguard local wisdom. This study aims to describe and analyze the forms and meanings of comparative language styles within the verses of the sole oha dance of the Danibao village community, West Adonara District, East Flores Regency. This investigation employed a descriptive qualitative method framed within literary stylistics. The research data comprised linguistic units including words, phrases, and verse lines elicited through observation, in-depth interviews with customary custodians (tukan orek), audio recording, transcriptive fieldnotes, and documentary review. The results indicate that the comparative language styles manifested in the sole oha verses encompass metaphor, personification, and euphemism, predominantly governed by personification which anthropomorphizes nature and communal brotherhood. These tropes serve to amplify poetic aestheticism while veiling sacred or taboo matters through reverent expressions. This study concludes that comparative language styles in sole oha constitute a symbolic representation of the Lamaholot philosophy emphasizing solidarity, cosmic harmony, and profound religiosity. This study contributes theoretically to advancing oral stylistic literature across the Indonesian archipelago and offers pedagogical implications for contextual instructional materials in regional language and literature education. ABSTRAK Tradisi lisan dalam masyarakat Lamaholot saat ini menghadapi ancaman pergeseran generasi dan degradasi pemaknaan akibat minimnya dokumentasi linguistik-estetik yang komprehensif. Selama ini, kajian terhadap seni pertunjukan lisan cenderung terbatas pada deskripsi etnografis umum tanpa membedah kekayaan gaya bahasa kiasan yang menjadi wadah transmisi nilai filosofis leluhur. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya penyelidikan sistematis terhadap piranti kebahasaan guna menjaga kelestarian kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bentuk serta makna gaya bahasa perbandingan dalam syair tarian sole oha pada masyarakat Desa Danibao, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka stilistika sastra. Data penelitian berupa satuan lingual berupa kata, frasa, dan larik syair yang dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat (tukan orek), perekaman, pencatatan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya bahasa perbandingan yang digunakan dalam syair sole oha meliputi metafora, personifikasi, dan eufemisme, dengan dominasi gaya bahasa personifikasi yang menginsani unsur alam dan rasa persaudaraan. Ketiga gaya bahasa tersebut berfungsi mengintensifkan keindahan puitik sekaligus menyamarkan hal-hal tabu melalui ungkapan penghormatan sakral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gaya bahasa perbandingan dalam sole oha merupakan representasi simbolik dari falsafah hidup masyarakat Lamaholot yang menjunjung tinggi persatuan, keharmonisan kosmis, dan religiositas. Penelitian ini berimplikasi secara teoretis pada pengayaan kajian stilistika tradisi lisan Nusantara serta berkontribusi praktis sebagai materi kontekstual dalam pembelajaran muatan lokal bahasa dan sastra daerah.