Selviana Barek Sanga
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ANALISIS FUNGSI DAN MAKNA TUTURAN RITUS ADAT BAU LOLON PADA PEMBANGUNAN LANGO BELE DI DESA HELANLANGOWUYO KECAMATAN ILE BOLENG Selviana Barek Sanga; Rikardus Pande; Sirilus Karolus Keroponama Keban
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i4.15908

Abstract

The relentless currents of modernization and rapid social transformation threaten to erode younger generations' understanding of oral traditions, particularly sacred ritual speech embedded with local indigenous wisdom. This generational disconnect represents a critical empirical gap that jeopardizes cultural transmission within the Lamaholot community, underscoring the urgent need for systematic documentation and linguistic-cultural analysis. This study aims to analyze and describe the functions and meanings of ritual speech in the Bau Lolon customary rite during the construction of Lango Bele in Helanlangowuyo Village, Ile Boleng District, East Flores Regency. Employing a qualitative descriptive design, the data were examined through Roland Barthes' semiotic perspective. Primary data sources were gathered from key informants, including traditional customary leaders (tuan tana), clan elders, and community figures actively engaged in the rite, supplemented by authentic audio recordings of ritual speech (koda). The findings reveal that the Bau Lolon speech embodies seven core functions: ancestral veneration, supplication for protection, invocation of communal prosperity, symbolic delegation of labor, affirmation of Lango Bele's institutional centrality, summoning of ancestral spirits, and petitions for divine blessings coupled with social solidarity. Semiotically, the narratives operate across denotative, connotative, and mythical dimensions, reflecting a harmonious cosmology connecting humanity, the Supreme Being (Rera Wulan Tanah Ekan), ancestors, and nature. In conclusion, the Bau Lolon rite serves as an enduring pillar of cultural identity and collective solidarity that reinforces communal cohesion. ABSTRAK Arus modernisasi dan transformasi sosial berpotensi mengikis pemahaman generasi muda terhadap kekayaan tradisi lisan, khususnya tuturan ritual sakral yang sarat akan kearifan lokal. Fenomena degradasi pemaknaan ini menjadi kesenjangan nyata yang mengancam transmisi budaya masyarakat Lamaholot, sehingga dokumentasi dan kajian mendalam terhadap sastra lisan menjadi sangat mendesak untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan fungsi serta makna tuturan dalam ritus adat Bau Lolon pada tahapan pembangunan Lango Bele di Desa Helanlangowuyo, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif serta menerapkan pisau bedah semiotika Roland Barthes. Sumber data utama diperoleh dari informan kunci yang meliputi tokoh adat (tuan tana), tetua suku, dan pemuka masyarakat yang terlibat langsung dalam ritual, didukung dokumen rekaman tuturan adat (koda). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan ritus Bau Lolon menjalankan tujuh fungsi utama, yaitu penghormatan kepada leluhur, permohonan perlindungan, permohonan kesejahteraan, penyerahan pekerjaan, penegasan kedudukan Lango Bele, pemanggilan leluhur, serta permohonan berkat dan solidaritas sosial. Dari perspektif semiotika, tuturan tersebut terstruktur atas makna denotatif, makna konotatif, dan mitos yang merefleksikan kosmologi sakral relasi harmonis manusia dengan Tuhan (Rera Wulan Tanah Ekan), leluhur, dan alam. Kesimpulannya, ritus Bau Lolon merupakan manifestasi identitas kultural dan pranata sosial kolektif yang berfungsi meneguhkan kohesi sosial masyarakat Lamaholot.