Hendri Prasetya
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Komunikasi  Kementerian Kependudukan Dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Dalam Membangun Kepercayaan Publik Mengikuti Program KB Pria Ratna Juita Razak; Yunita Sari; Hendri Prasetya
WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 3 No 3 (2026): WATHAN: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : Fanshur Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71153/wathan.v3i3.650

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi komunikasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN dalam membangun kepercayaan publik untuk mendorong partisipasi pria dalam program KB Pria melalui momentum pemecahan rekor MURI pelayanan MOP/Vasektomi serentak yang melibatkan lebih dari 2.000 akseptor di 190 kabupaten/kota pada April 2025. Fenomena ini dirancang bertepatan dengan Hari Kartini melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), menandai pergeseran paradigma dari pembatasan kelahiran menuju keadilan gender dan kasih sayang keluarga. Penelitian menggunakan paradigma post-positivisme dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap tiga informan kunci dan tujuh informan utama, observasi non-partisipan, serta studi dokumentasi, dan diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman serta kerangka Excellence Theory, 4 Steps Public Relations, dan prinsip 7Cs Communication. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BKKBN mengimplementasikan special event secara sistematis mulai dari fact-finding hingga evaluation dengan komunikasi dua arah yang simetris. Hambatan multidimensional yang dihadapi mencakup stigma budaya patriarki, ketakutan psikologis atas penurunan maskulinitas, serta maraknya misinformasi seputar vitalitas dan hukum agama. BKKBN memitigasi hambatan tersebut melalui reframing narasi maskulinitas, pemetaan berlapis, pelibatan tokoh agama dan adat, konseling pasangan, serta narasi edukatif multikanal.