This study aimed to analyze differences in students’ mathematical problem-solving ability before and after the implementation of Inquiry Learning and Project-Based Learning (PjBL), as well as to compare learning outcomes between the two models among fourth-grade elementary school students. Previous studies have reported inconsistent findings regarding the relative advantages of Inquiry Learning and PjBL, particularly in the context of mathematical problem-solving ability at the elementary school level. This study employed a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The sample consisted of 44 students from SD Negeri Mangunsari 07 and SD Negeri Kalicacing 02, selected using purposive sampling. Data were collected through observation sheets and essay tests developed based on Polya’s four problem-solving indicators. The paired-sample t-test results showed that students’ mathematical problem-solving ability improved significantly after the implementation of each learning model. The mean score in the Inquiry Learning class increased from 55.09 to 88.04, while the mean score in the Project-Based Learning class increased from 48.00 to 70.59. The independent-samples t-test on posttest scores indicated a significant difference between the two groups, with the Inquiry Learning class achieving a mean posttest score 17.45 points higher than the PjBL class. Therefore, under the conditions of this study, Inquiry Learning resulted in higher final mathematical problem-solving performance than PjBL. These findings suggest that Inquiry Learning has the potential to serve as an alternative instructional approach for supporting mathematical problem-solving ability among fourth-grade elementary school students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sebelum dan sesudah penerapan Inquiry Learning dan Project-Based Learning (PjBL), serta membandingkan hasil belajar antara kedua model tersebut pada siswa kelas IV sekolah dasar. Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang belum konsisten mengenai keunggulan Inquiry Learning dan PjBL, khususnya dalam konteks kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi-experimental) dengan nonequivalent control group design. Sampel terdiri atas 44 siswa dari SD Negeri Mangunsari 07 dan SD Negeri Kalicacing 02 yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui lembar observasi dan tes uraian yang disusun berdasarkan empat indikator pemecahan masalah Polya. Hasil paired sample t-test menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika meningkat secara signifikan setelah penerapan masing-masing model pembelajaran. Rata-rata skor kelas Inquiry Learning meningkat dari 55,09 menjadi 88,04, sedangkan kelas Project-Based Learning meningkat dari 48,00 menjadi 70,59. Hasil independent samples t-test terhadap skor posttest menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, dengan rata-rata skor posttest kelas Inquiry Learning lebih tinggi sebesar 17,45 poin dibandingkan kelas PjBL. Dengan demikian, pada kondisi penelitian ini, penerapan Inquiry Learning menghasilkan kemampuan pemecahan masalah matematika akhir yang lebih tinggi dibandingkan dengan PjBL. Temuan ini menunjukkan bahwa Inquiry Learning berpotensi menjadi alternatif pembelajaran untuk mendukung kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV sekolah dasar.