Tuberkulosis Paru (TB Paru) menjadi penyebab kematian ketiga setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker. Penghentian pengobatan sebelum waktunya (drop out) merupakan penyebab utama kegagalan pengobatan tuberkulosis di Indonesia. Data dari berbagai publikasi kesehatan nasional menunjukkan bahwa angka kasus putus berobat mencapai sekitar 50% dari total kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian drop out pada penderita TB paru lansia usia 60-69 tahun di Wilayah kerja UPT Puskesmas Tambang tahun 2026. Penelitian dilakukan pada tanggal 20-26 Mei tahun 2026. Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita TB Paru lansia usia 60-69 tahun yang tercatat di buku register tahun 2025 yaitu berjumlah 35 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dari penelitian Ali Imron (2020) yang terdiri dari 15 pertanyaan yang sudah dilakukan uji validitas dengan hasil tidak ada nilai r hitung dibawah nilai r tabel (nilai dikolom Corrected Item Total Correlation) artinya dikatakan valid. Nilai Cronbach Alpha yaitu 0,859 yang berarti ≥ 0,60. Analisis data menggunakan analisa univariat dan bivariat. Berdasarkan uji statistik dengan uji chi-square, hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan (p value = 0,009), status ekonomi (p value = 0,001) dan jarak rumah (p value = 0,006 dengan kejadian drop out pada penderita TB paru lansia usia 60-69 tahun di Wilayah kerja UPT Puskesmas Tambang. Diharapkan penderita wajib disiplin mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) setiap hari dan menyelesaikan masa pengobatan. Hal ini sangat penting untuk mencegah terjadinya kekambuhan dan resistensi obat dan jika mengalami efek samping obat (seperti mual atau pusing), pasien dianjurkan segera berkonsultasi dengan dokter alih-alih menghentikan pengobatan secara sepihak.