ABSTRAK Lulusan Sarjana Teknik Biomedis telah dihasilkan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia, namun tingkat keterserapan mereka di fasilitas pelayanan kesehatan masih sangat rendah. Fenomena ini menjadi ironi di tengah meningkatnya kebutuhan rumah sakit terhadap tenaga teknis yang memahami teknologi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya keterserapan lulusan Sarjana Teknik Biomedis di sektor pelayanan kesehatan, khususnya rumah sakit. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui angket terbuka dan tertutup kepada delapan responden manajemen rumah sakit yang dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan secara kuantitatif deskriptif untuk jawaban tertutup dan tematik untuk data terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala utama dalam keterserapan lulusan adalah belum dikenalnya profesi Teknik Biomedis secara luas, terbatasnya pemahaman terhadap kompetensi lulusan, belum adanya nomenklatur jabatan resmi, serta lemahnya regulasi pelaksana di tingkat operasional. Meski demikian, pihak rumah sakit menunjukkan keterbukaan terhadap profesi ini jika didukung oleh regulasi yang jelas, sertifikasi kompetensi, serta sosialisasi aktif dari institusi pendidikan. Penelitian ini merekomendasikan pembentukan kebijakan lintas sektor yang mendukung legitimasi dan integrasi profesi Teknik Biomedis dalam sistem kesehatan nasional. Kata Kunci: Teknik Biomedis, Keterserapan Lulusan, Manajemen Rumah Sakit, Kebijakan SDM Kesehatan, Regulasi Profesi. ABSTRACT Various universities in Indonesia have produced graduates with Bachelor's degrees in Biomedical Engineering, but these graduates are not often employed in healthcare facilities. This is an ironic situation given the growing need for technical staff who understand healthcare technology in hospitals. This study aims to examine the factors influencing the low employment rate of Bachelor of Biomedical Engineering graduates in the healthcare sector, particularly in hospitals. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected via open- and closed-ended questionnaires administered to eight hospital management respondents selected through purposive sampling. Descriptive quantitative methods were used to analyse the closed-ended responses, and thematic analysis was used to analyse the open-ended data. The results of the study indicate that the main obstacles to graduate employment are the lack of widespread recognition of the biomedical engineering profession, limited understanding of graduate competencies, the absence of official job titles and weak operational regulations. Nevertheless, hospitals have shown openness towards the profession, provided it is supported by clear regulations, competency certification and active promotion by educational institutions. This study recommends formulating cross-sectoral policies to support the legitimacy and integration of the biomedical engineering profession within the national health system. Keywords: Biomedical Engineering, Graduate Employment, Health Human Resources Policy, Hospital Management, Professional Regulation.