Anindya Puspita
Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSISTENSI INSTA-POETRY DALAM PERKEMBANGAN SATRA DAN BUDAYA POPULER DI INDONESIA Arif Kurniawan; Anindya Puspita; Afifatul Wafiy
FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 2 (2026): FRASA: JURNAL KEILMUAN BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/frasaunimuda.v7i2.6544

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah secara radikal mengubah lanskap produksi dan konsumsi masyarakat terhadap karya sastra, terutama pada genre puisi. Selama berabad-abad puisi dipandang sebagai bentuk ekspresi artistik yang padat, simbolik, dan sarat perenungan. Namun, kehadiran Insta-Poetry sebagai napas baru dalam dunia sastra memunculkan kecenderungan puisi dalam bentuk ringkas, literal, dan dikombinasikan dengan visual estetik guna menarik perhatian serta memicu pemaknaan dalam waktu singkat. Melalui perspektif industri budaya oleh Theodor W. Adorno beserta kolaborasinya dengan Max Horkheimer, penelitian ini menyelidiki bagaimana Insta-Poetry khususnya di Indonesia tidak hanya mengubah bentuk dan gaya puisi, tetapi juga cara masyarakat memahami dan memproduksi makna dalam konteks sastra dan budaya populer digital. Melalui karya-karya seperti @rintiksedu, @ruang.pena, dan @nktchi, Insta-Poetry melahirkan sebuah paradigma baru yang sarat kesederhanaan, aksesibilitas, serta keterhubungan. Fenomena ini dilatarbelakangi berbagai faktor teknologis dan sosiokultural, serta memunculkan konsekuensi-konsekuensi terhadap sastra dan budaya Indonesia.
TRAUMA TRANSGENERASIONAL DALAM CERPEN CEROBONG TUA TERUS MENDERA KARYA RAUDAL TANJUNG BANUA Anindya Puspita; Arif Kurniawan; Asriyansyah; Ega Erlambang
Basindo: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Vol. 10 No. 1 (2026): Basindo: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya
Publisher : Department of Indonesian Literature, Faculty of Letters State University of Malang (UM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um007v10i12026p131-142

Abstract

Trauma can spread through the process of transmitting traumatic experiences to the descendants of survivors. Using explanatory methods and Marianne Hirsch's post-memory concept, this study aims to dig deeper into how transgenerational trauma presents in Cerobong Tua Terus Mendera (2024), as well as how trauma is manifested by the character Wiji. Wiji's transgenerational trauma is the result of a historical process that operates across generations and originates from the life story of Ki Ageng Mangir. The symptoms of Wiji's trauma appear in the form of involuntary memory through the sound of the chimney as a medium that brings together the past and present in the same affective moment. Involuntary memory is no longer just a flashback, but a traumatic repetition—a re-enactment that makes the past intensely present again in the body of the present.   Trauma dapat disebarkan melalui proses transmisi pengalaman-pengalaman traumatis kepada keturunan penyintas. Dengan metode eksplanatif dan konsep pasca-ingatan Marianne Hirsch, penelitian ini bertujuan menggali lebih dalam bagaimana trauma transgenerasional dihadirkan pada Cerobong Tua Terus Mendera, serta bagaimana bentuk trauma dimanifestasikan oleh tokoh Wiji. Trauma transgenerasional Wiji adalah hasil dari proses historis yang bekerja lintas generasi dan berasal dari kisah hidup Ki Ageng Mangir. Gejala trauma Wiji muncul dalam bentuk involuntary memory melalui suara cerobong sebagai medium yang mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam satu momen afektif yang sama. Involuntary memory bukan lagi sekadar kilas balik, tetapi pengulangan traumatik—sebuah re-enactment yang membuat masa lalu hadir kembali secara intens dalam tubuh masa kini.