Keterampilan menulis cerita rakyat memerlukan kemampuan mengembangkan ide, struktur naratif, tokoh, alur, bahasa, dan amanat, tetapi pembelajaran sering menggunakan materi yang kurang dekat dengan pengalaman sosial budaya siswa. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh legenda urban Citayam sebagai materi ajar terhadap keterampilan menulis cerita rakyat siswa kelas X SMA Pelita Atsiri. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain posttest-only control group. Sampel terdiri atas 63 siswa, yaitu 33 siswa kelas eksperimen dan 30 siswa kelas kontrol. Data diperoleh melalui tes unjuk kerja menulis yang dinilai berdasarkan isi, struktur, alur, kebahasaan, kreativitas tokoh dan latar, serta amanat, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, uji Levene, dan independent-samples t test. Hasil menunjukkan rata-rata kelas eksperimen sebesar 85,70, sedangkan kelas kontrol 59,83, dengan selisih 25,87 poin. Perbedaan tersebut signifikan, t(61)=14,100, p<0,001, dengan Hedges’ g=3,51 yang menunjukkan efek sangat besar pada sampel. Temuan mengindikasikan bahwa legenda urban lokal dapat berfungsi sebagai stimulus ide dan konteks budaya yang mendukung pengembangan cerita. Penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan legenda urban Citayam berkaitan dengan capaian menulis yang lebih tinggi dibandingkan bahan ajar konvensional, meskipun kesimpulan kausal dibatasi oleh desain posttest tanpa data kemampuan awal. Kebaruan penelitian terletak pada pengujian eksperimental folklor kontemporer lokal sebagai materi ajar menulis cerita rakyat. Kontribusinya ialah menawarkan model pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan komunitas, literasi budaya, dan proses menulis secara kontekstual serta kritis, sekaligus membuka peluang dokumentasi narasi lokal sebagai sumber belajar yang relevan bagi sekolah. Pendekatan ini menempatkan budaya lokal bukan sebagai pelengkap materi, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang dapat diolah menjadi pengalaman literasi bermakna.