This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Dwiningtyas Sulityani, Hapsari
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Strategi Personal Branding Young Lex melalui Pembentukan Imej Negatif dan Pengelolaan Haters Viali Tobing, Luki; Dwiningtyas Sulityani, Hapsari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.183 KB)

Abstract

Ada berbagai cara bagi public figure di dunia hiburan untuk mengembangkan karirnya. Salah satunya adalah strategi personal branding dari seorang artis itu sendiri. Young Lex adalah salah satu nama terdepan di industri hiburan berbasis internet zaman sekarang, khususnya di bidang musik hip hop. Namun, nama Young Lex dekat dengan kontroversi dan haters. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi personal branding yang dilakukan Young Lex dengan menggunakan studi kasus. Teori yang digunakan adalah Teori Dramatisme dari Kenneth Burke yang menggunakan Pentad Dramatisme. Teori Dramatisme sendiri adalah teori retorika konvensional yang cenderung memusatkan perhatian pada bagaimana wacana memengaruhi cara orang berpikir. Pentad Dramatisme adalah sebuah metode utama dari Teori Dramatisme yang digunakan untuk menganalisis penggunaan simbol pada komunikasi untuk mengidentifikasi diri seseorang dengan khalayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi personal branding yang dilakukan Young Lex terjadi melalui lima aspek Pentad Dramatisme yang saling berkaitan. Diantaranya adalah agen, agensi, adegan, tindakan, dan tujuan. Young Lex sebagai agen, melakukan tindakan melalui bermacam-macam agensi pada adegan yang berbeda-beda namun tetap dengan konsistensi tujuan yang sama. Konsistensi tujuan ini sebenarnya ia jadikan sebagai strategi personal branding. Maka dari itu, imej negatif dan pengelolaan haters yang Young Lex lakukan, terjadi karena pembentukan karakter dari Young Lex, sang agen itu sendiri.
Pemaknaan Khalayak Etnis Tionghoa terhadap Stereotip dalam Film Cek Toko Sebelah Fadhila Husodo, Husna; Dwiningtyas Sulityani, Hapsari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.218 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana keragaman pemaknaan khalayak etnis Tionghoa terhadap stereotip yang muncul dalam film Cek Toko Sebelah. Paradigma yang digunakan adalah paradigma interpretif dengan metode analisis resepsi Stuart Hall. Penelitian ini juga menggunakan analisis semiotika John Fiske yang menjelaskan tiga level analisis yaitu level realitas, level representasi dan level ideologi. Kemudian, teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori stereotip. Teori ini digunakan untuk mengungkap bagaimana sebenarnya stereotip muncul. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah para informan mampu memberikan pemaknaan terhadap stereotip yang ditampilkan dalam film Cek Toko Sebelah. Hasil pemaknaan menunjukkan adanya keragaman posisi pemaknaan yaitu dominant-hegemonic reading, negotiated reading, dan oppositional reading. Pada kategori stereotip etnis Tionghoa pelit preferred reading yang muncul dari adegan film Cek Toko Sebelah justru menunjukkan hal sebaliknya. Pemaknaan hampir semua informan pada preferred reading ini menunjukkan dominan. Untuk kategori stereotip etnis Tionghoa identik dengan pedagang preferred reading yang muncul dari adegan dimaknai secara dominan oleh hampir semua informan. Kategori terakhir yaitu hubungan etnis Tionghoa dan etnis Jawa pemaknaan setiap informan cukup berbeda satu sama lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa informan dalam penelitian ini adalah khalayak aktif. Pemaknaan informan dalam penelitian ini berdasarkan pengalaman masing-masing dan dipengaruhi faktor usia dan pekerjaan.
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP KONSTRUKSI HYBRID MASCULINITY Dyah Nastiti, Ingrid; Dwiningtyas Sulityani, Hapsari
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.376 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemaknaan yang dilakukan oleh khalayak terhadap konstruksi hybrid masculinity dengan melihat acara reality survival show Produce 101 Season 2. Produce 101 Season 2 termasuk acara dari Korea Selatan yang banyak dikonsumsi dan ditonton oleh masyarakat Indonesia, padahal acara ini menampilkan bentuk maskulinitas yaitu hybrid masculinity yang cukup berbeda dan baru bagi masyarakat Indonesia karena berbeda dengan bentuk maskulinitas dominan yang selama ini telah dikenal. Jenis hybrid masculinity yang diteliti dalam penelitian ini adalah localized global/regional masculinity dan manufactured versatile masculinity. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes untuk mengetahui makna – makna dominan atau preferred reading yang muncul dan analisis resepsi Stuart Hall untuk mengetahui pemaknaan khalayak, serta menggunakan teori khalayak aktif dan teori performativitas gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para informan memiliki standar maskulinitas ideal yang sejalan dengan maskulinitas dominan, seperti memiliki rahang yang tegas dan tubuh yang tegap, tidak memiliki gaya rambut yang berlebihan, mampu menjaga penampilan, memiliki pembawaan yang tenang dan tidak berlebihan, serta mampu menghormati perempuan. Pemaknaan informan yang terdiri dari informan laki – laki dan perempuan terhadap konstruksi hybrid masculinity dalam acara Produce 101 Season 2 mengalami keberagaman dengan kecenderungan berada pada posisi dominan. Elemen yang paling banyak dimaknai dominan adalah elemen penampilan fisik yang dilihat dari bentuk tubuh berotot, badan yang tinggi dan keseluruhan penggabungan wajah kkonminam dengan tubuh berotot, dan elemen upaya mencapai penampilan fisik melalui olahraga, penggunaan masker wajah dan bercukur janggut. Selain itu, elemen yang paling banyak dimaknai secara negosiasi adalah elemen penampilan fisik yang dilihat dari tipe wajah kkonminam, elemen upaya mencapai penampilan fisik melalui penggunaan make up, dan elemen citra yang ditampilkan melalui gerak tubuh menarikan tarian grup perempuan. Sedangkan elemen citra yang ditampilkan melalui ekspresi dan suara yaitu penggabungan citra aegyo dan manly memiliki pemaknaan yang imbang antara posisi dominan, negosiasi, dan oposisi. Hal ini menunjukkan bahwa khalayak dapat setuju dan menegosiasikan laki – laki yang memiliki maskulinitas yang cukup berbeda dengan maskulinitas dominan yang sebelumnya mereka kenal, dan bahwa khalayak aktif karena mereka tidak serta merta mengintepretasikan dan menerima pesan yang disampaikan media begitu saja, namun dipertimbangkan dan dinegosiasikan sesuai dengan latar belakang dan kondisi masing – masing khalayak.
PENCARIAN DAN PEMROSESAN INFORMASI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK BERHENTI MEROKOK Ardelia, Alda; Dwiningtyas Sulityani, Hapsari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.765 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas menganai bagaimana proses pencarian dan pemrosesan informasi dalam pengambilan keputusan untuk berhenti merokok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, paradigma interpretif, dan teknik analisa data yang mengacu pada metode fenomenologi. Subjek penelitian adalah enam informan mantan perokok aktif yang merokok secara terbuka minimal 1 batang rokok setiap harinya selama minimal 1 tahun. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dalam pencarian dan pemrosesan informasi seseorang dalam pengambilan keputusan itu memiliki pengalaman yang berbeda untuk berhenti merokok. Pada pencarian informasi mereka mendapatkan tekanan dari luar, dorongan tersebut didapatkan dari pasangan atau orangtua. Melakukan kegiatan lain sebagai penggantinya digunakan mereka sebagai pengalihan dari kegiatan rutin merokok mereka, kegiatan tersebut berupa meningkatkan frekuensi makan atau melakukan aktivitas olahraga. Kecemasan yang timbul dikurangi dengan mengafirmasi diri, afirmasi diri dilakukan dengan mensuggest pikiran dengan membayangkan bahwa rokok merupakan hal yang tidak mereka suka. Pada pemrosesan informasi dalam pengambilan keputusan, penggabungan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru yang didapat hanya sebagai tambahan informasi tetapi tidak memperkuat keyakinan serta tidak mengurangi kecemasan yang mereka rasakan ketika akan memutuskan untuk berhenti merokok karena hasil dari pengolahan informasi yang mereka lakukan bergantung pada besarnya motivasi yang dimiliki masing-masing individu.
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP MASKULINITAS LIYAN PADA DRAMA TELEVISI KOREA Venusia Theresia, Rebecca; Dwiningtyas Sulityani, Hapsari
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.073 KB)

Abstract

Penelitian ini berfokus pada tokoh laki-laki utama yang menderita penyakit kanker payudara pada drama TV Korea berjudul Jealousy Incarnate. Paradigma yang digunakan adalah paradigma interpretif dengan metode analisis resepsi dari Ien Ang untuk mengetahui pemaknaan khalayak. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan analisis semiotika dari Roland Barthes untuk menunjukkan preferred reading pada teks media. Dengan menggunakan teori Khalayak Aktif, penelitian ini ingin melihat perbedaan penciptaan makna dari masing-masing individu tentang maskulinitas liyan yang ditunjukkan oleh tokoh laki-laki utama dalam drama ini. Penelitian ini menyebutkan 8 (delapan) buah preferred reading yang menunjukkan maskulinitas liyan dalam drama TV Korea Jealousy Incarnate. Elemen yang dibahas untuk menentukan preferred reading dalam drama ini yaitu elemen penampilan, keluarga/percintaan, kesuksesan, kekuatan fisik dan kekuatan emosional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khalayak berperan aktif dalam memaknai adegan yang ditonton dalam drama. Hal ini ditunjukkan dengan beragam tema pemaknaan yang muncul dari setiap informan. Informan terlibat secara aktif dalam menginterpretasikan preferred reading sesuai dengan latar belakang mereka masing-masing. Terdapat beberapa tema pemaknaan informan yang sesuai dengan preferred reading yang disajikan, namun ada juga pemaknaan informan yang berbeda dengan preferred reading tersebut. Keberagaman pemaknaan yang muncul dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu usia, pekerjaan, dan status hubungan. Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa walaupun tokoh laki-laki utama pada drama ini tidak dapat memenuhi karakteristik maskulinitas dominan, laki-laki tersebut masih terlihat menarik dan dapat diterima oleh informan yang semuanya perempuan. Informan bahkan menganggap bahwa karakter Lee HwaShin merupakan karakter terbaik yang pernah diperankan oleh aktor Cho JungSeok.