Shofi Ziana Aisha
Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Kalimantan Timur

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronis Dengan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Shofi Ziana Aisha; Rivan Firdaus; Arifin Hidayat
Afiyatun Journal of Health Sciences Vol. 1 No. 4 (2026): September
Publisher : PT. Edukasi Ahmad Kirang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit pernapasan progresif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara yang terus-menerus disebabkan oleh peradangan saluran napas kronis. PPOK tetap menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia, menyumbang sekitar 3,5 juta kematian setiap tahun. Produksi dahak yang berlebihan biasanya menyebabkan pembersihan saluran napas yang tidak efektif, berkontribusi pada memburuknya gejala pernapasan dan menurunnya kualitas hidup. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan implementasi perawatan keperawatan menggunakan Teknik Batuk Efektif (ECT) pada pasien dengan eksaserbasi akut PPOK yang mengalami pembersihan saluran napas yang tidak efektif. Metode: Studi kasus ini menggunakan pendekatan proses keperawatan yang melibatkan satu pasien dengan eksaserbasi akut PPOK yang dirawat di Rumah Sakit Umum Regional Inche Abdoel Moeis, Samarinda, Indonesia. Perawatan keperawatan diberikan selama tiga hari berturut-turut. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi langsung, pemeriksaan fisik, tinjauan rekam medis, dan pemeriksaan diagnostik pendukung. Hasil: Hasil utama adalah peningkatan pembersihan saluran napas setelah ECT. Penilaian awal menunjukkan dispnea, batuk produktif, kesulitan mengira dahak, mengi, dan temuan gas darah arteri sebesar pH 7,45, PaO₂ 73 mmHg, PaCO₂ 39 mmHg, dan HCO₃ 29 mEq/L. Diagnosis keperawatan meliputi pembersihan saluran napas yang tidak efektif, pertukaran gas yang terganggu, dan intoleransi aktivitas. Setelah tiga hari intervensi, dahak lebih mudah diekspetorasi, dispnea berkurang, mengi berkurang, pasien melakukan ECT secara mandiri, dan saturasi oksigen tetap stabil. Perubahan parameter gas darah arteri tidak dapat dievaluasi karena analisis lanjutan tidak dilakukan. Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa ECT dapat meningkatkan pembersihan saluran napas dengan memfasilitasi eksekopor dahak dan mengurangi gejala pernapasan pada pasien dengan eksaserbasi akut PPOK. Temuan ini mendukung peran ECT sebagai intervensi keperawatan independen dalam penanganan PPOK. Studi mendatang harus mencakup sampel yang lebih besar, periode tindak lanjut yang lebih lama, dan analisis berulang gas darah arteri atau spirometri untuk memperkuat bukti efektivitas klinisnya.