Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan dialek Sorong di kalangan masyarakat pendatang dengan membedakan praktik yang masih berada pada ranah akomodasi komunikasi dan yang telah berkembang menjadi akulturasi linguistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan observasi terhadap 15 informan dari lima kelompok pendatang di Kota Sorong, kemudian dianalisis secara tematik berdasarkan lawan bicara, domain komunikasi, konteks penggunaan, spontanitas, konsistensi, dan ketergantungan penggunaan dialek terhadap kebutuhan penyesuaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh informan cenderung berada pada pola akomodasi komunikasi, sedangkan delapan informan menunjukkan kecenderungan akulturasi linguistik. Pada pola akomodasi, penggunaan dialek Sorong masih bersifat situasional dan berubah mengikuti konteks serta karakteristik lawan bicara. Sebaliknya, pada pola akulturasi linguistik, dialek Sorong telah digunakan secara lebih spontan, konsisten, dan melintasi berbagai domain, termasuk sesama pendatang dan lingkungan keluarga. Penelitian menemukan bahwa kefasihan maupun hilangnya logat asal bukan indikator utama untuk membedakan kedua proses tersebut. Pembeda yang lebih menentukan adalah tingkat internalisasi, keluasan domain penggunaan, spontanitas, konsistensi, dan ketergantungan terhadap lawan bicara. Temuan ini menempatkan penggunaan dialek Sorong pada suatu kontinum dari penyesuaian situasional menuju internalisasi linguistik serta menegaskan bahwa akulturasi linguistik dapat berlangsung tanpa menghilangkan repertoar bahasa asal.