Jihaan Rifqah Najlaa
Jurusan Bimbingan dan Konseling, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGARUH FEAR OF MISSING OUT (FoMO) TERHADAP PENCARIAN JATI DIRI SISWA SMA Jihaan Rifqah Najlaa; Sulistiyana Sulistiyana; Muhammad Arsyad
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i4.14852

Abstract

The phenomenon of fear of missing out (FoMO), defined as social anxiety arising from the apprehension that others might be having rewarding experiences from which one is absent, has escalated alongside the pervasive adoption of social media among adolescents. Senior high school represents a pivotal developmental phase for students to achieve identity exploration stability, which is theoretically vulnerable to digital social comparison. This study aimed to map the levels of FoMO and identity exploration among tenth-grade students at SMAN 7 Banjarmasin, as well as to examine statistically how FoMO predicts their identity exploration. A quantitative correlational predictive design was implemented, involving 304 tenth-grade students selected via simple random sampling from an accessible population of 432 students. Data were collected using four-point Likert scale questionnaires with proven item validity and reliability, and subsequently analyzed through descriptive statistics and simple linear regression using SPSS version 31. Descriptive findings indicated that the majority of students exhibited moderate levels of both FoMO (61.5%) and identity exploration (56.6%). Simple linear regression analysis confirmed that FoMO significantly predicted students' identity exploration, yielding a correlation coefficient (R) of 0.516, a coefficient of determination (R^2) of 0.266, an unstandardized regression coefficient (B) of -1.360, a standardized coefficient (β) of -0.516, and a significance value of p<0.001. The negative direction indicates that higher FoMO is statistically associated with lower stability in students' identity exploration. These findings underscore the necessity of school guidance and counseling interventions centered on self-concept enhancement, emotional regulation, and adaptive digital literacy for secondary school adolescents. ABSTRAK Fenomena fear of missing out (FoMO), yaitu kecemasan sosial akibat kekhawatiran tertinggal dari pengalaman atau aktivitas orang lain, kian marak seiring pesatnya adopsi media sosial oleh remaja. Masa sekolah menengah atas merupakan periode perkembangan penting bagi siswa dalam mencapai kemantapan pencarian jati diri, yang secara teoretis rentan terganggu oleh dorongan komparasi sosial digital. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat FoMO dan tingkat pencarian jati diri pada siswa kelas X SMAN 7 Banjarmasin, serta menguji peran FoMO dalam memprediksi pencarian jati diri mereka secara statistik. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional prediktif dengan sampel sebanyak 304 siswa kelas X yang dipilih melalui teknik simple random sampling dari populasi terjangkau sebanyak 432 siswa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Likert empat pilihan yang telah teruji validitas butir dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis secara deskriptif serta inferensial menggunakan regresi linear sederhana berbantuan software SPSS versi 31. Hasil analisis deskriptif menunjukkan mayoritas responden berada pada kategori sedang untuk tingkat FoMO (61,5%) dan pencarian jati diri (56,6%). Hasil analisis regresi linear sederhana membuktikan bahwa FoMO secara signifikan memprediksi pencarian jati diri siswa dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,516, koefisien determinasi (R^2) sebesar 0,266, koefisien regresi tidak terstandardisasi (B) sebesar -1,360, koefisien terstandardisasi (β) sebesar -0,516, dan nilai signifikansi p<0,001. Arah hubungan yang negatif mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat FoMO yang dialami siswa, semakin rendah tingkat kemantapan pencarian jati dirinya. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi bimbingan dan konseling di sekolah melalui layanan penguatan konsep diri, regulasi emosi, serta peningkatan literasi digital adaptif bagi remaja.