Maria Somi Sili
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MAKNA HOMONIM BAHASA LAMAHOLOT DIALEK ADONARA DI DESA KOKOTOBO KECAMATAN ADONARA TENGAH Maria Somi Sili; Rikardus Pande; Yoakim Y.M. Leu
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i4.15851

Abstract

This study aims to describe the forms of homonyms and analyze their semantic variations based on speech contexts in the Lamaholot language, Adonara dialect, spoken in Kokotobo Village, Central Adonara District, East Flores Regency. Employing a qualitative descriptive design, linguistic data were gathered from four native speaker informants using participatory observation, recording, note-taking techniques, elicitation, and source triangulation. The findings identify 15 homonymous lexical pairs: pelate, gere, mara, geto, wua’, mege’, tobo, dore, mataa’, lolo’, belone, naii’, wata’, ala’, and uta’. These lingual units encompass both absolute homonyms originating from distinct etymological roots across grammatical categories and contextual homonyms shaped by agrarian pragmatic situations. This study demonstrates that semantic interpretation in indigenous vernaculars relies heavily on situational and syntactic contexts to eliminate communicative ambiguity. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk homonim serta menganalisis perbedaan maknanya berdasarkan konteks tuturan dalam bahasa Lamaholot dialek Adonara di Desa Kokotobo, Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur. Penelitian kualitatif deskriptif ini mengumpulkan data kebahasaan dari 4 orang informan penutur asli melalui teknik simak libat cakap, rekam, dan catat yang dipadukan dengan teknik elisitasi serta triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 pasangan leksikal berhomonim, yaitu pelate, gere, mara, geto, wua’, mege’, tobo, dore, mataa’, lolo’, belone, naii’, wata’, ala’, dan uta’. Satuan lingual tersebut terbagi atas homonim hakiki antarkelas kata yang berbeda asal-usulnya serta homonim perluasan makna yang terikat secara ketat pada ko-teks kalimat dan konteks situasi pragmatis masyarakat agraris setempat. Temuan ini menegaskan bahwa penentuan relasi semantis bahasa daerah sangat bergantung pada konteks tuturan untuk mencegah ambiguitas pemaknaan dalam komunikasi keseharian penutur.