Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Menghidupkan Memori Kolektif: Fotografi dalam Pelestarian Warisan Budaya Mento Toelakan Wonogiri dengan Perspektif Poskolonial Adi Putra Surya Wardhana; Taura Ayu Fajrin Handoko; Hana Hidayatul Umma; Kristina Novi Susanti
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.116576

Abstract

  ABSTRACT Collective memory plays an important role in preserving cultural heritage, while photography can serve as a medium for recording and revitalizing memories of the past. This study examines the use of photography in preserving the cultural heritage of Wonoharjo Village through a postcolonial perspective. During the colonial period, Wonoharjo was known as the site of the Mento Toelakan pineapple fiber plantation, which declined following Indonesian independence. Using a descriptive interpretive qualitative method and a postcolonial approach, this study traces the historical legacy of the plantation and examines how photography contributes to reconstructing collective memory. The findings show that the colonial Agave plantation shaped the identity of Wonoharjo’s community as an Onderneming Mento Toelakan society, while colonial photographs reflected power relations that positioned plantation workers as subaltern subjects. Following independence, the appropriation of plantation remains within an increasingly anti-colonial discourse contributed to the neglect and fading of its historical memory. Today, the remaining traces primarily include irrigation channels, soaking ponds, a plantation railway bridge, and the graves of prominent figures. Photographing these sites serves as a catalyst for collective memory and provides a space for critically revisiting the colonial past. Thus, photography functions not merely as documentation but also as a medium for transmitting collective memory and strengthening the cultural identity of the Wonoharjo community.ABSTRAK Memori kolektif berperan penting dalam pelestarian warisan budaya, sementara fotografi dapat menjadi medium untuk merekam dan menghidupkan kembali ingatan tentang masa lalu. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan fotografi dalam pelestarian warisan budaya Desa Wonoharjo melalui perspektif poskolonial. Pada masa kolonial, Wonoharjo dikenal sebagai kawasan perkebunan serat nanas Mento Toelakan yang mengalami kemunduran setelah kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-interpretatif dengan pendekatan poskolonial untuk menelusuri jejak historis perkebunan dan pemanfaatan fotografi dalam merekonstruksi ingatan kolektif masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan Agave kolonial membentuk identitas masyarakat Wonoharjo sebagai komunitas Onderneming Mento Toelakan, sekaligus merepresentasikan relasi kuasa yang menempatkan buruh sebagai kelompok subaltern dalam fotografi kolonial. Pasca kemerdekaan, pengambilalihan peninggalan perkebunan dalam wacana antikolonial turut mendorong pengabaian dan pelupaan sejarahnya. Kini, jejak tersebut terutama tersisa dalam bentuk saluran pengairan, kolam rendaman, jembatan lori, dan makam tokoh. Pemotretan situs-situs tersebut menjadi pemantik memori kolektif sekaligus ruang untuk membaca kembali sejarah kolonial secara kritis. Dengan demikian, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai medium pewarisan memori dan penguatan identitas masyarakat Wonoharjo. 
Menghidupkan Memori Kolektif: Fotografi dalam Pelestarian Warisan Budaya Mento Toelakan Wonogiri dengan Perspektif Poskolonial Adi Putra Surya Wardhana; Taura Ayu Fajrin Handoko; Hana Hidayatul Umma; Kristina Novi Susanti
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.116576

Abstract

  ABSTRACT Collective memory plays an important role in preserving cultural heritage, while photography can serve as a medium for recording and revitalizing memories of the past. This study examines the use of photography in preserving the cultural heritage of Wonoharjo Village through a postcolonial perspective. During the colonial period, Wonoharjo was known as the site of the Mento Toelakan pineapple fiber plantation, which declined following Indonesian independence. Using a descriptive interpretive qualitative method and a postcolonial approach, this study traces the historical legacy of the plantation and examines how photography contributes to reconstructing collective memory. The findings show that the colonial Agave plantation shaped the identity of Wonoharjo’s community as an Onderneming Mento Toelakan society, while colonial photographs reflected power relations that positioned plantation workers as subaltern subjects. Following independence, the appropriation of plantation remains within an increasingly anti-colonial discourse contributed to the neglect and fading of its historical memory. Today, the remaining traces primarily include irrigation channels, soaking ponds, a plantation railway bridge, and the graves of prominent figures. Photographing these sites serves as a catalyst for collective memory and provides a space for critically revisiting the colonial past. Thus, photography functions not merely as documentation but also as a medium for transmitting collective memory and strengthening the cultural identity of the Wonoharjo community.ABSTRAK Memori kolektif berperan penting dalam pelestarian warisan budaya, sementara fotografi dapat menjadi medium untuk merekam dan menghidupkan kembali ingatan tentang masa lalu. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan fotografi dalam pelestarian warisan budaya Desa Wonoharjo melalui perspektif poskolonial. Pada masa kolonial, Wonoharjo dikenal sebagai kawasan perkebunan serat nanas Mento Toelakan yang mengalami kemunduran setelah kemerdekaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-interpretatif dengan pendekatan poskolonial untuk menelusuri jejak historis perkebunan dan pemanfaatan fotografi dalam merekonstruksi ingatan kolektif masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan Agave kolonial membentuk identitas masyarakat Wonoharjo sebagai komunitas Onderneming Mento Toelakan, sekaligus merepresentasikan relasi kuasa yang menempatkan buruh sebagai kelompok subaltern dalam fotografi kolonial. Pasca kemerdekaan, pengambilalihan peninggalan perkebunan dalam wacana antikolonial turut mendorong pengabaian dan pelupaan sejarahnya. Kini, jejak tersebut terutama tersisa dalam bentuk saluran pengairan, kolam rendaman, jembatan lori, dan makam tokoh. Pemotretan situs-situs tersebut menjadi pemantik memori kolektif sekaligus ruang untuk membaca kembali sejarah kolonial secara kritis. Dengan demikian, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai medium pewarisan memori dan penguatan identitas masyarakat Wonoharjo.