Involvement in family gathering traditions prior to marriage and indigenous ceremonies in East Nusa Tenggara often imposes financial burdens and emotional strains, yet empirical studies investigating psychological protective factors remain scarce. This study aimed to examine the relationship between family social support and emotion regulation with psychological distress among East Nusa Tenggara communities participating in customary family gatherings. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants comprised 100 individuals aged 18–60 years selected via a purposive sampling technique. Data were collected using the Family Social Support Scale, the Emotion Regulation Scale, and the Kessler Psychological Distress Scale (K10). Data analysis utilized Pearson product-moment correlation supported by IBM SPSS Statistics. The findings revealed a significant negative relationship between family social support and psychological distress (r=-0.500; p<0.001), as well as a significant negative relationship between emotion regulation and psychological distress (r=-0.560; p<0.001). Most participants reported high family social support (59%), high emotion regulation (58%), and low psychological distress (68%). These findings demonstrate that robust family social support and adaptive emotion regulation serve as protective buffers against psychological distress in customary cultural practices. ABSTRAK Keterlibatan dalam tradisi kumpul keluarga menjelang perkawinan dan upacara adat di Nusa Tenggara Timur kerap menimbulkan beban finansial serta tekanan emosional, namun kajian empiris yang meneliti faktor protektif psikologisnya masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara dukungan sosial keluarga dan regulasi emosi dengan distres psikologis pada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang terlibat dalam tradisi kumpul keluarga adat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 100 orang berusia 18–60 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Dukungan Sosial Keluarga, Skala Regulasi Emosi, dan Kessler Psychological Distress Scale (K10). Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson product-moment berbantuan program IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial keluarga dan distres psikologis (r=-0,500; p<0,001), serta hubungan negatif yang signifikan antara regulasi emosi dan distres psikologis (r=-0,560; p<0,001). Sebagian besar partisipan memiliki dukungan sosial keluarga tinggi (59%), regulasi emosi tinggi (58%), dan distres psikologis rendah (68%). Temuan ini membuktikan bahwa dukungan sosial keluarga yang kokoh dan regulasi emosi yang adaptif berfungsi sebagai penyangga protektif terhadap distres psikologis dalam pelaksanaan tradisi budaya.