Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang, sehingga kepatuhan minum obat menjadi komponen penting dalam pengendaliannya. Self-efficacy, yaitu keyakinan pasien terhadap kemampuannya menjalankan pengobatan secara konsisten, diduga berperan penting dalam membentuk perilaku kepatuhan tersebut, terutama pada pasien yang harus menjalani terapi jangka panjang meskipun tidak merasakan gejala. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan self-efficacy dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Klinik Rawat Inap Mitra Medista Pagak. Penelitian kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan pada 40 pasien hipertensi yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Medication Adherence Self-Efficacy Scale-Revised (MASES-R) untuk mengukur self-efficacy dan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) untuk mengukur kepatuhan minum obat. Analisis bivariat menggunakan Fisher's Exact Test dengan tingkat kemaknaan p<0,05, dan kekuatan hubungan dinilai berdasarkan Odds Ratio (OR) dengan 95% Confidence Interval (CI). Sebanyak 27 responden (67,5%) memiliki self-efficacy tinggi dan 26 responden (65,0%) tergolong patuh minum obat. Pada kelompok self-efficacy tinggi, 22 responden (81,5%) patuh, sedangkan pada kelompok rendah hanya 4 responden (30,8%) yang patuh. Terdapat hubungan signifikan antara self-efficacy dan kepatuhan minum obat (p=0,004), dengan OR=9,900 (95% CI: 2,151–45,559), yang menunjukkan pasien dengan self-efficacy tinggi memiliki odds hampir sepuluh kali lebih besar untuk patuh dibandingkan pasien dengan self-efficacy rendah. Self-efficacy merupakan aspek psikologis penting yang berkaitan erat dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Penguatan self-efficacy melalui edukasi, konseling, dan pendampingan berkelanjutan oleh tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi mendukung kepatuhan pengobatan pasien hipertensi secara jangka panjang.