Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengembangan Bisnis Kursus Bahasa Inggris Berbasis Komunitas melalui Inovasi Layanan dan Adaptasi Teknologi Ayra Zalikha Munir; Sultan Baa; Ani Putri Aneliya; Rafi’ah Arham; Fatih Muhammad
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.14095

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pengembangan bisnis, bentuk inovasi layanan, serta strategi adaptasi yang diterapkan oleh EYSA Language Center dalam menghadapi disrupsi teknologi dan persaingan pasar pendidikan non-formal di Makassar. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan pada Agustus 2026 melalui observasi langsung, wawancara semi-terstruktur bersama pihak manajemen, serta analisis dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EYSA bertransformasi dari komunitas belajar informal, Ezpz, menjadi entitas bisnis formal berbasis direct consumer-funded model. Konflik hak kekayaan intelektual atas nama merek memaksa dilakukannya rebranding total, yang oleh manajemen diubah menjadi peluang melalui pembentukan South Sulawesi English Community (SSEC) sebagai saluran pemasaran organik. Transformasi ini didorong oleh empat inovasi berpusat pada pelanggan, yaitu garansi gratis mengulang kelas selama dua bulan, portal siswa berbasis situs web untuk fleksibilitas jadwal mandiri, layanan konsultasi beasiswa gratis bersama alumni luar negeri, serta metode pembelajaran berbasis gamification. Selain itu, EYSA mengatasi ancaman disrupsi Artificial Intelligence (AI) dan kejenuhan pasar melalui pendekatan ikatan emosional (emotional bonding) dengan peserta didik serta fokus pada kualitas layanan, bukan persaingan harga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keunggulan bersaing lembaga kursus berbasis komunitas tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi juga pada pengintegrasian inovasi nilai, fleksibilitas layanan digital, kesadaran terhadap perlindungan kekayaan intelektual, dan keterlibatan komunitas secara berkelanjutan. Temuan ini memberi panduan praktis bagi wirausahawan pemula di bidang jasa pendidikan non-formal.