Shafira Nurlaili
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Mahardhika Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengaruh Disiplin Kerja dan Standar Operasional Prosedur (SOP) terhadap Kinerja Karyawan Perusahaan Perunggasan di Kabupaten Mojokerto Shafira Nurlaili; Mohammad Ali Masyhuri; Muslikhun Muslikhun
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.14145

Abstract

Disiplin kerja serta pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) menjadi bagian penting mendukung pencapaian prestasi kerja karyawan, terutama pada perusahaan perunggasan yang mengutamakan ketepatan waktu dan konsistensi dalam menjalankan kegiatan operasional. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis keterkaitan kedisiplinan kerja serta pelaksanaan SOP dengan pencapaian kerja karyawan perunggasan berskala nasional di Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif dengan rancangan asosiatif. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner menggunakan skala Likert lima poin. Populasi penelitian berjumlah 120 karyawan. Berdasarkan perhitungan rumus Slovin dengan kesalahan 5%, ditetapkan responden sebanyak yang 92 responden, sedangkan 100 responden dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Berdasarkan hasil pengujian, seluruh instrumen yang digunakan memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas, sebagaimana tercermin dari Cronbach’s Alpha berada pada rentang 0,732 sampai 0,791. Hasil uji t menunjukkan bahwa disiplin kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (t = 3,301; Sig. = 0,001), SOP memberikan dampak positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (t = 5,663; Sig. = 0,000). Pengujian secara simultan memperlihatkan bahwa kedua variabel berpengaruh signifikan (F = 59,533; Sig. = 0,000). R² sebesar 0,551 menunjukkan bahwa model yang digunakan dapat menerangkan 55,1% perbedaan kinerja karyawan, sementara 44,9% sisanya dipengaruhi  aspek lain yang dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan untuk meningkatkan kinerja.