Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berisiko mengalami ketidakstabilan hemodinamik akibat belum matangnya organ tubuh, terutama sistem pernapasan dan kardiovaskular. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat menjaga stabilitas fisiologis adalah prone nesting positioning, yaitu kombinasi posisi tengkurap dengan dukungan nesting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh prone nesting positioning terhadap stabilitas hemodinamik pada bayi berat lahir rendah di RSUD dr. Adhyatma, MPH. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experiment one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 31 BBLR yang dipilih melalui total sampling. Data stabilitas hemodinamik (saturasi oksigen, frekuensi nadi, dan frekuensi napas) dikumpulkan menggunakan lembar observasi sebelum dan sesudah intervensi selama 60 menit setiap hari dalam tiga hari berturut-turut, kemudian dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan, median saturasi oksigen meningkat dari 94% menjadi 98%, sedangkan median frekuensi napas menurun dari 48 kali/menit menjadi 42 kali/menit dan median frekuensi nadi menurun dari 142 kali/menit menjadi 138 kali/menit. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p < 0,05. Ada pengaruh prone nesting positioning terhadap stabilitas hemodinamik (saturasi oksigen, frekuensi napas dan frekuensi nadi) pada bayi berat lahir rendah di RSUD dr. Adhyatma, MPH. Hal ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan penerapan prone nesting positioning sebagai intervensi nonfarmakologis dalam perawatan bayi berat lahir rendah.