Indonesia adalah bangsa yang kaya akan tradisi dan kebudayaan lokal, salah satunya adalah tradisi Ruwatan Laut yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat nelayan di Teluk Betung, Lampung, sebagai ungkapan syukur dan permohonan keselamatan kepada penguasa laut. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi kontekstualisasi pemberitaan Injil melalui tradisi Ruwatan Laut secara Alkitabiah dan kritis, sehingga unsur budaya yang selaras dengan nilai-nilai Alkitab dapat dipakai sebagai jembatan penginjilan, sementara unsur yang berpotensi mengarah pada sinkretisme dapat dikenali dan dihindari. Penelitian ini menggunakan metode kajian kepustakaan (library research) dengan menelaah buku, artikel jurnal teologi, dan hasil penelitian terdahulu mengenai tradisi Ruwatan Laut serta teori-teori kontekstualisasi Injil, khususnya pemikiran Yakob Tomatala, Stephen B. Bevans, dan David J. Hesselgrave. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sejumlah unsur dalam tradisi Ruwatan Laut yang memiliki titik temu dengan nilai-nilai Alkitabiah, sehingga dapat dikontekstualisasikan secara kritis melalui model penerjemahan (translasi) dan model antropologis tanpa mengorbankan kemurnian Injil. Dengan pendekatan kontekstualisasi kritis, unsur-unsur tradisi yang selaras dengan iman Kristen dapat diafirmasi dan dipakai sebagai titik kontak (point of contact) penginjilan, sementara unsur yang bertentangan dengan Firman Tuhan perlu dimurnikan atau ditolak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tradisi Ruwatan Laut dapat menjadi jembatan misi yang efektif bagi pemberitaan Injil di Teluk Betung apabila dilakukan dengan kepekaan budaya, kesetiaan pada Alkitab, dan keberanian pelayanan lintas budaya.