Sertifikasi tenaga kerja konstruksi merupakan instrumen penting dalam meningkatkan kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia di sektor konstruksi. Efektivitas pelaksanaan sertifikasi sangat dipengaruhi oleh metode uji kompetensi yang digunakan serta kesiapan peserta dalam mengikuti proses asesmen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode uji kompetensi daring dan luring serta kesiapan peserta terhadap efektivitas sertifikasi tenaga kerja konstruksi di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 86 responden yang diambil secara proporsional dari lima Tempat Uji Kompetensi (TUK). Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, sedangkan analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan uji asumsi klasik. Variabel penelitian meliputi metode uji daring, metode uji luring, kesiapan peserta, dan efektivitas sertifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode uji daring dan kesiapan peserta berpengaruh negatif dan signifikan terhadap efektivitas sertifikasi, sedangkan metode uji luring berpengaruh positif dan signifikan. Nilai koefisien determinasi (R²) pada model uji daring sebesar 0,505, sedangkan pada model uji luring sebesar 0,110. Temuan ini menunjukkan bahwa uji kompetensi daring memiliki sensitivitas tinggi terhadap kesiapan peserta dan kendala teknis, sementara uji luring relatif lebih stabil dalam mengukur kompetensi praktis. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemilihan metode uji kompetensi yang mempertimbangkan kesiapan peserta dan karakteristik asesmen, serta merekomendasikan penerapan pendekatan blended assessment sebagai alternatif yang adaptif dan berkelanjutan dalam pelaksanaan sertifikasi tenaga kerja konstruksi