Perkembangan wacana self-love menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap penerimaan diri, kesehatan mental, dan kesejahteraan psikologis. Meskipun memberikan kontribusi positif, pemaknaan self-love yang terlalu berorientasi pada kenyamanan emosional dan validasi diri berisiko melepaskannya dari tanggung jawab moral dan spiritual. Penelitian ini bertujuan menganalisis self-love dalam diskursus spiritualitas Islam kontemporer dan merumuskan pemahamannya melalui perspektif tazkiyat al-nafs. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif dengan metode studi kepustakaan (library research) dan data kualitatif. Sumber data meliputi Al-Qur’an, hadis, khazanah intelektual tasawuf, dan artikel ilmiah mengenai self-love, self-compassion, spiritualitas Islam, muhasabah, dan tazkiyat al-nafs. Data dianalisis secara deskriptif dan interpretatif, kemudian disintesis secara konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-love dalam perspektif Islam tidak identik dengan pemanjaan diri, melainkan berakar pada pengakuan terhadap martabat manusia, tanggung jawab untuk memelihara diri sebagai amanah dari Allah, dan komitmen untuk melakukan perbaikan diri. Tazkiyat al-nafs memberikan kerangka transformatif melalui muhasabah, mujahadah, riyadhah, dan pembentukan akhlak. Penelitian ini menawarkan konsep self-love transformatif yang mencakup lima dimensi, yaitu pengakuan terhadap martabat manusia, penerimaan diri yang bertanggung jawab, evaluasi diri, pengendalian diri, dan transendensi diri. Kebaruan penelitian ini adalah pergeseran pemaknaan self-love dari paradigma afirmatif-psikologis menuju paradigma etis-spiritual yang menempatkan cinta terhadap diri sebagai bagian dari proses penyucian jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah.