Syamsir
Universitas Negeri Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sistem Nilai Tukar Tetap VS Mengambang: Konsep, Mekanisme, dan Implikasinya terhadap Perekonomian: Penelitian Khairani Alawiyah Matondang; Josua Free Adiel Siahaan; M Faiz Syahputra Sihotang; Syamsir
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 4 Nomor 2, September-Desember 2026
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v4i2.702

Abstract

Nilai tukar merupakan harga suatu mata uang yang dinyatakan dalam mata uang negara lain dan memiliki peranan penting dalam perekonomian terbuka. Sistem nilai tukar menentukan bagaimana nilai mata uang dibentuk dan bagaimana otoritas moneter merespons perubahan kondisi ekonomi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsep sistem nilai tukar tetap dan mengambang, membandingkan mekanisme, kelebihan, risiko, serta implikasinya terhadap inflasi, perdagangan, kebijakan moneter, dan stabilitas ekonomi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kepustakaan dengan sumber utama literatur ekonomi internasional dan publikasi International Monetary Fund serta informasi mengenai sistem nilai tukar Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem nilai tukar tetap memberikan kepastian nominal yang lebih besar karena otoritas berupaya mempertahankan mata uang pada nilai atau kisaran tertentu, tetapi membutuhkan cadangan devisa dan dapat membatasi independensi kebijakan moneter. Sistem mengambang membiarkan nilai tukar lebih banyak ditentukan oleh kekuatan pasar sehingga dapat berfungsi sebagai penyesuaian terhadap guncangan eksternal, tetapi nilai tukar dapat mengalami volatilitas. Dalam praktiknya, terdapat berbagai rezim antara fixed dan floating, termasuk managed float. Indonesia saat ini diklasifikasikan IMF sebagai free floating secara de jure dan floating secara de facto, sementara Bank Indonesia dapat melakukan intervensi untuk mengurangi volatilitas. Dengan demikian, pembahasan nilai tukar perlu mempertimbangkan kondisi struktural, mobilitas modal, kredibilitas kebijakan, kedalaman pasar keuangan, dan karakteristik guncangan ekonomi.