Pencemaran udara oleh partikulat halus berdiameter aerodinamis kurang dari 2,5 µm (PM2.5) merupakan permasalahan lingkungan yang berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan, serta dipengaruhi tidak hanya oleh emisi, tetapi juga oleh kondisi meteorologi. Salah satu faktor kunci yang mengendalikan variasi konsentrasi PM2.5 adalah stabilitas atmosfer, khususnya melalui pembentukan inversi suhu yang membatasi pencampuran vertikal udara. Artikel ini bertujuan untuk mensintesis temuan-temuan ilmiah terkini mengenai peran stabilitas atmosfer dan inversi suhu dalam mengontrol penyebaran dan akumulasi PM2.5 di lapisan dekat permukaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan meninjau sepuluh artikel jurnal bereputasi yang dipublikasikan pada periode 2021–2025, mencakup studi observasional, penginderaan jauh, dan pemodelan numerik di berbagai konteks geografis. Hasil sintesis menunjukkan konsensus yang kuat bahwa kejadian inversi suhu secara konsisten menurunkan tinggi lapisan pencampuran dan melemahkan turbulensi vertikal, sehingga mendorong akumulasi PM2.5, terutama selama kondisi atmosfer stabil dan episode kabut asap. Selain itu, beberapa studi mengungkap adanya mekanisme umpan balik aerosol atmosfer, di mana aerosol penyerap radiasi memperkuat inversi suhu dan memperpanjang durasi kondisi stabil. Temuan ini menegaskan bahwa stabilitas atmosfer merupakan pengontrol sistemik pencemaran udara dan perlu dipertimbangkan secara eksplisit dalam analisis, pemodelan, serta perumusan strategi mitigasi kualitas udara.