Kabupaten Maybrat yang terletak di wilayah kepala burung Pulau Papua memiliki kekayaangeodiversitas karst dan endemisme akuatik yang luar biasa, namun potensinya sebagai destinasiwisata berkelanjutan belum terkelola secara optimal. Penelitian ini bertujuan untukmengevaluasi kapasitas daerah Kabupaten Maybrat dalam menunjang kegiatan kepariwisataanmelalui identifikasi aset alam serta penilaian perspektif masyarakat lokal. Menggunakanpendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan pada 24 distrikdan wawancara mendalam dengan teknik purposive dan snowball sampling. Responden terdiridari tokoh masyarakat, aparat pemerintah, dan kepala keluarga yang mewakili subsukuAyamaru, Aitinyo, Aifat, dan Mare. Hasil penelitian mengidentifikasi 27 titik potensi ekowisatayang terbagi dalam empat zona utama: Aifat Raya, Ayamaru Raya, Mare Raya, dan AitinyoRaya, yang mencakup bentang alam karst, air terjun, dan danau yang bernilai sains tinggi.Analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan utama Maybrat terletak pada kekayaanbiodiversitas dan modal budaya filosofi "Anu Beta Tubat" (semangat gotong royong). Namun,tantangan sistemik berupa keterbatasan infrastruktur, konektivitas, dan kapasitas sumber dayamanusia masih menjadi penghambat utama. Menariknya, ditemukan konsensus mutlak (100%setuju) dari responden terhadap rencana pengembangan ekowisata, yang mencerminkankepercayaan tinggi terhadap inisiatif pemerintah. Penelitian menyimpulkan bahwa transisiekonomi dari sektor agraris menuju sektor jasa ekowisata sangat layak secara ilmiah dan sosial.Keberhasilan implementasi sangat bergantung pada tata kelola kolaboratif dan zonasi dayadukung lingkungan yang ketat guna melindungi ekosistem karst yang rentan sekaligusmenjamin manfaat ekonomi inklusif bagi Orang Asli Papua.