Misinformasi sains terkait isu lingkungan, khususnya perubahan iklim, menjadi tantanganserius dalam pendidikan di era digital. Siswa SMP sebagai kelompok yang aktif mengaksesmedia sosial sangat rentan terhadap paparan informasi yang tidak terverifikasi, sehinggaberpotensi membentuk pemahaman yang keliru terhadap konsep ilmiah. Kondisi inimenunjukkan bahwa pembelajaran tidak lagi cukup hanya berfokus pada penguasaan konsep,tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, evaluasi informasi, sertaketerlibatan siswa dalam tindakan nyata. Berbagai pendekatan pembelajaran telahdikembangkan untuk meningkatkan literasi sains dan kesadaran lingkungan siswa, sepertiEducation for Sustainable Development (ESD), Argument-Driven Inquiry (ADI), danpembelajaran berbasis aksi (action-based learning). Pendekatan-pendekatan tersebut terbuktiefektif dalam mengembangkan aspek kognitif dan afektif siswa, namun dalam implementasinyamasih cenderung dilakukan secara terpisah dan belum secara spesifik diarahkan untukmenghadapi tantangan misinformasi lingkungan. Berdasarkan berbagai kajian sebelumnya,integrasi pendekatan-pendekatan tersebut menunjukkan potensi dalam mengembangkan literasisains, argumentasi ilmiah, serta keterlibatan siswa dalam aksi nyata. Secara konseptual,integrasi ini dapat dipahami sebagai suatu kerangka pembelajaran yang mencakup tiga tahapanutama, yaitu verifikasi informasi, penguatan argumentasi ilmiah, dan implementasi aksi nyata.Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis sertaketahanan siswa terhadap misinformasi.