Pendidikan inklusif menuntut adanya strategi pembelajaran yang mampu menyesuaiakankeberagaman karakteristik peserta didik, termasuk siswa slow learner. Mereka memilikikemampuan kecepatan belajar yang lebih lambat, kesulitan memahami konsep – konsep yangabstrak, serta cakupan perhatian yang pendek. Kondisi ini sering menyebabkan motivasi belajarmereka rendah, terutama dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP yangsering dengan konsep-konsep abstrak. Berbagai pendekatan telah dikembangkan untukmenjawab tantangan tersebut, salah satunya adalah dengan model pembelajaran kooperatifyang menekankan interaksi sosial dan kolaborasi teman sebaya, serta pendekatan kontekstualyang mengaitkan materi dengan pengalaman sehari – hari peserta didik. Integrasi antarakeduanya melahirkan model Cooperative Learning Kontekstual yang disusun untukmeningkatkan motivasi belajar siswa slow learner. Model ini memiliki enam fasepembelajaran, yaitu orientasi kontekstual, pembentukan kelompok, penyelidikan terbimbing,presentasi, evaluasi, dan pemberian penghargaan. Keenam fase tersebut secara berurutanmampu membangun perhatian melalui pengalaman konkret, menumbuhkan rasa relevanmelalui keterkaitan dengan lingkungan sekitar, menguatkan kepercayaan diri melaluikeberhasilan bertahap, serta memberikan kepuasan melalui apresiasi terhadap proses belajar.Penerapan model pada materi IPA Klasifikasi Makhluk Hidup menunjukkan bahwa pendekatanini dapat menjawab kebutuhan belajar siswa slow learner secara lebih manusiawi. Dengandemikian, model Cooperative Learning Kontekstual menjadi alternatif pedagogis dalam upayameningkatkan motivasi belajar IPA siswa slow learner di SMP.