This study aims to examine EFL students' perceptions regarding self-efficacy in speaking contexts. Self-efficacy represents an individual's conviction in completing speaking tasks successfully despite facing linguistic and psychological barriers. However, many students encounter difficulties achieving proficient communicative competence due to anxiety, low motivation, and diminished self-confidence. This quantitative study utilized an adapted structured questionnaire administered to 40 EFL students across three Indonesian universities selected through a purposive sampling technique. The gathered data were evaluated using descriptive statistical analysis by calculating frequency distributions and percentages. The results indicate that students maintain a high level of self-efficacy, which substantially enhances their self-confidence to mitigate speaking anxiety. This study confirms that students with elevated self-efficacy manage communicative obstacles more effectively than those possessing lower self-efficacy. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa English as a Foreign Language (EFL) mengenai efikasi diri mereka dalam konteks pembelajaran keterampilan berbicara (speaking). Efikasi diri merupakan keyakinan mendasar bahwa seorang individu mampu menyelesaikan tugas secara optimal di tengah berbagai hambatan linguistik maupun psikologis. Namun, sejumlah mahasiswa kerap menghadapi kendala kecemasan dan stagnasi keterampilan berbicara akibat rendahnya rasa percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris. Penelitian kuantitatif ini menerapkan instrumen kuesioner terstruktur yang diadaptasi dan disebarkan kepada 40 mahasiswa pendidikan bahasa Inggris dari tiga universitas di Indonesia menggunakan teknik purposive sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara komprehensif menggunakan teknik analisis statistik deskriptif berupa perhitungan persentase frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki efikasi diri yang positif dan mampu mempertahankannya guna mereduksi kecemasan berbicara. Mahasiswa dengan tingkat efikasi diri yang tinggi terbukti lebih tangguh dan cakap dalam mengendalikan tantangan komunikasi dibandingkan mahasiswa berefikasi rendah.