Kamila Anjali
Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Development of integrative inclusive Islamic jurisprudence and Islamic cultural history materials: Contextual, historical critical, and social religious relevance approaches Kamila Anjali; Muhammad Bintang Satriawan; Muhammad Fakhrur Rizal; Mita Tamaminni’mah; Mahin Anas Romadona; Muhammad Misbah
Idarah Tarbawiyah: Journal of Management in Islamic Education Vol. 7 No. 8 (2026)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/itjmie.v7i8.24239

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) plays a vital role in shaping students’ religious understanding, character, and social attitudes. However, in practice, PAI instruction—particularly in the subjects of Fiqh and Islamic Cultural History (SKI)—is still often presented in a fragmented, text-based manner and lacks relevance to the ever-evolving realities of society. This paper aims to analyze the development of Fiqh and SKI materials based on an integrative-inclusive approach through contextual, historical-critical, and socio-religious relevance perspectives. The method used in this study is a qualitative approach involving a literature review through the analysis of various concepts and research findings related to the development of Islamic Education (PAI) instruction. The study’s findings indicate that the development of integrative and inclusive Fiqh and SKI curriculum materials is a key strategy for creating a more comprehensive, adaptive, and meaningful religious education. Fiqh curriculum materials need to be developed not only to provide a normative understanding of Islamic law but also to address social issues and keep pace with the times. Meanwhile, Islamic Studies instruction should be guided by a historical-critical approach so that students do not merely memorize historical events but are able to understand the values, context, and lessons contained within the development of Islamic civilization. A contextual approach to learning allows students to connect Islamic teachings with real-life experiences, while an inclusive approach instills the values of religious moderation, tolerance, and respect for diversity. Thus, the development of Fiqh and SKI materials based on an integrative-inclusive approach can make Islamic Education (PAI) more humanistic, relevant, and responsive to today’s socio-religious challenges. This learning model is not only oriented toward enhancing cognitive aspects but also contributes to shaping students who possess a broad understanding of religion, a critical mindset, a moderate character, and the ability to apply Islamic values in social life. Abstrak Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman keagamaan, karakter, dan sikap sosial peserta didik. Namun, dalam praktiknya pembelajaran PAI, khususnya materi Fikih dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), masih sering disajikan secara parsial, tekstual, dan kurang memiliki keterkaitan dengan realitas kehidupan masyarakat yang terus berkembang. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan materi Fikih dan SKI berbasis integratif-inklusif melalui pendekatan kontekstual, historis-kritis, dan relevansi sosial keagamaan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui analisis berbagai konsep dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pengembangan pembelajaran PAI. Hasil kajian menunjukkan bahwa pengembangan materi Fikih dan SKI integratif-inklusif menjadi strategi penting dalam menciptakan pembelajaran agama yang lebih komprehensif, adaptif, dan bermakna. Materi Fikih perlu dikembangkan tidak hanya sebagai pemahaman hukum Islam secara normatif, tetapi juga dikaitkan dengan persoalan kehidupan sosial dan perkembangan zaman. Sementara itu, pembelajaran SKI perlu diarahkan melalui pendekatan historis-kritis agar peserta didik tidak hanya menghafal peristiwa sejarah, tetapi mampu memahami nilai, konteks, serta hikmah yang terkandung dalam perkembangan peradaban Islam. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran memungkinkan peserta didik menghubungkan ajaran Islam dengan pengalaman nyata, sedangkan pendekatan inklusif menanamkan nilai moderasi beragama, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan demikian, pengembangan materi Fikih dan SKI berbasis integratif-inklusif mampu menjadikan pembelajaran PAI lebih humanis, relevan, dan responsif terhadap tantangan sosial keagamaan masa kini. Model pembelajaran ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan aspek kognitif, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk peserta didik yang memiliki pemahaman agama yang luas, sikap kritis, karakter moderat, serta kemampuan menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.