Usaha keset milik Bapak Imam Bajuri di Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung telah berjalan cukup lama dengan kualitas produk yang memadai, namun pemasarannya masih bertumpu pada cara konvensional, yaitu penjualan kepada pengepul serta jaringan pelanggan yang terbatas di sekitar lokasi produksi. Ketiadaan identitas visual usaha dan minimnya pemanfaatan teknologi digital menyebabkan produk keset ini kurang dikenal secara luas dan sulit bersaing dengan produk sejenis yang telah menerapkan strategi pemasaran digital. Kegiatan pendampingan masyarakat ini bertujuan menguatkan branding dan pemasaran digital usaha keset tersebut melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), yang menempatkan pemilik usaha sebagai mitra aktif sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Pelaksanaan pendampingan mengikuti lima tahap, yaitu persiapan dan orientasi, perencanaan program, pelaksanaan pendampingan, monitoring dan pendampingan lanjutan, serta evaluasi dan refleksi, dengan subjek dampingan ditentukan melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria keaktifan usaha, kepemilikan perangkat pendukung digital, serta belum dimanfaatkannya sarana promosi berbasis digital. Hasil kegiatan menunjukkan tercapainya tiga output utama, yaitu terdaftarnya titik lokasi usaha pada Google Maps, tersedianya banner sebagai identitas visual pertama usaha, dan aktifnya akun TikTok sebagai kanal pemasaran digital. Ketiga capaian tersebut secara bersama-sama meningkatkan visibilitas usaha, memperkuat identitas merek, dan membuka peluang perluasan pasar ke luar wilayah desa, sekaligus meningkatkan kemampuan pemilik usaha dalam mengelola sarana promosi tersebut secara mandiri sehingga dampak pendampingan berpotensi berkelanjutan.