Penelitian ini bertujuan menganalisis pembentukan habitus pengguna Artificial Intelligence (AI) di arena pendidikan, khususnya di sekolah keagamaan di Ciracas, Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi virtual kritis yang mengkaji bagaimana logika dan struktur algoritma AI diinternalisasi secara bertahap oleh pendidik dan peserta didik hingga membentuk disposisi berpikir, berpersepsi, dan bertindak dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Kerangka teori yang digunakan adalah konsep habitus dan kekerasan simbolik dari Pierre Bourdieu serta Teori Kritis Mazhab Frankfurt. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipan terhadap 10 guru dan 5 siswa di sekolah keagamaan Ciracas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI tidak lagi sekadar sebagai alat bantu, tetapi telah bertransformasi menjadi sumber pengetahuan terselubung yang mentransfer logika mesin ke dalam interaksi edukatif. Proses ini melahirkan bentuk baru kekerasan simbolik yang mencakup dominasi logika instrumental, ketidaktransparanan epistemik, dan perebutan kapital teknologis. Namun demikian, adaptasi pada AI juga bersifat selektif dan ambivalen, seperti teknologi diintegrasikan pragmatis untuk tugas-tugas administratif seperti penyusunan modul dan soal, sementara otoritas tradisional, khususnya materi keagamaan seperti tafsir dan hadis, tetap dipertahankan. Temuan ini mengungkap dialektika antara modernitas teknologi dan nilai-nilai kultural keagamaan yang melatari dinamika pendidikan kontemporer, sekaligus menunjukkan bahwa integrasi AI tidak berlangsung secara homogen melainkan dinegosiasikan dengan struktur budaya setempat.